Aku dan temanku pergi ke 'Pasar malam agama.' Bukan pasar dagang. Pasar agama. Tetapi persaingannya sama sengitnya, propagandanya pun sama hebatnya.
Di kios Yahudi kami mendapat selebaran yang mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan bahwa bangsa Yahudi adalah umat pilihanNya. Ya, bangsa Yahudi. Tidak ada bangsa lain yang terpilih seperti bangsa Yahudi.
Di kios Islam kami mendengar, bahwa Allah itu Maha Penyayang dan Muhammad ialah nabiNya. Keselamatan diperoleh dengan mendengarkan Nabi Tuhan yang satu-satunya itu.
Di kios Kristen kami menemukan, bahwa Tuhan adalah Cinta dan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan. Silahkan mengikuti Gereja Kudus jika tidak ingin mengambil risiko masuk neraka.
Di pintu keluar aku bertanya kepada temanku: 'Apakah pendapatmu tentang Tuhan?' Jawabnya: 'Rupanya Ia penipu, fanatik dan bengis.'
Sampai di rumah aku berkata kepada Tuhan: 'Bagaimana Engkau bisa tahan dengan hal seperti ini, Tuhan? Apakah Engkau tidak tahu, bahwa selama berabad-abad mereka memberi julukan jelek kepadaMu?'
Tuhan berkata: 'Bukan Aku yang mengadakan 'Pasar malam agama' itu. Aku bahkan merasa terlalu malu untuk mengunjunginya.'
Selasa, 27 November 2007
PEMUDA ARAB YANG SEDERHANA
Guru Arab Jalalud-Din Rumi senang sekali menceritakan kisah berikut ini:
Pada suatu hari Nabi Muhammad sedang bersembahyang subuh di mesjid. Di antara orang-orang yang ikut berdoa dengan Nabi adalah seorang pemuda Arab.
Nabi mulai membaca Qur'an dan mendaras ayat yang menyatakan perkataan Firaun: 'Aku ini dewa yang benar.' Mendengar perkataan itu pemuda yang baik itu tiba-tiba menjadi marah. Ia memecah keheningan dengan berteriak: 'Pembual busuk, bangsat dia!'
Nabi berdiam diri. Tetapi seusai sembahyang, orang-orang lain mencela orang Arab itu dengan gusar: 'Apakah engkau tidak tahu malu? Niscaya doamu tidak berkenan kepada Tuhan. Sebab, engkau tidak hanya merusak kekhusukan suasana doa, tetapi juga mengucapkan kata-kata kotor di hadapan Rasul Allah.'
Wajah pemuda yang malang itu menjadi merah padam dan ia gemetar ketakutan, sampai-sampai Malaikat Jibrail menampakkan diri pada Nabi dan bersabda: 'Assalamuallaikum! Allah berfirman agar engkau menyuruh orang banyak berhenti mencaci-maki pemuda yang sederhana ini. Sungguh, sumpah serapahnya yang jujur berkenan di hatiKu, melebihi doa orang-orang saleh.'
Bila kita berdoa, Tuhan melihat ke dalam hati kita dan bukan pada rumusan kata-kata.
Pada suatu hari Nabi Muhammad sedang bersembahyang subuh di mesjid. Di antara orang-orang yang ikut berdoa dengan Nabi adalah seorang pemuda Arab.
Nabi mulai membaca Qur'an dan mendaras ayat yang menyatakan perkataan Firaun: 'Aku ini dewa yang benar.' Mendengar perkataan itu pemuda yang baik itu tiba-tiba menjadi marah. Ia memecah keheningan dengan berteriak: 'Pembual busuk, bangsat dia!'
Nabi berdiam diri. Tetapi seusai sembahyang, orang-orang lain mencela orang Arab itu dengan gusar: 'Apakah engkau tidak tahu malu? Niscaya doamu tidak berkenan kepada Tuhan. Sebab, engkau tidak hanya merusak kekhusukan suasana doa, tetapi juga mengucapkan kata-kata kotor di hadapan Rasul Allah.'
Wajah pemuda yang malang itu menjadi merah padam dan ia gemetar ketakutan, sampai-sampai Malaikat Jibrail menampakkan diri pada Nabi dan bersabda: 'Assalamuallaikum! Allah berfirman agar engkau menyuruh orang banyak berhenti mencaci-maki pemuda yang sederhana ini. Sungguh, sumpah serapahnya yang jujur berkenan di hatiKu, melebihi doa orang-orang saleh.'
Bila kita berdoa, Tuhan melihat ke dalam hati kita dan bukan pada rumusan kata-kata.
AGAMA SEORANG IBU TUA
Seorang ibu tua yang terlalu saleh, kurang puas dengan semua agama yang ada. Maka ia mendirikan agamanya sendiri.
Pada suatu hari seorang wartawan, yang secara tulus ingin mengetahui keyakinan dan pendiriannya, bertanya:
Apakah Ibu betul-betul percaya, seperti dikatakan banyak orang, bahwa tidak ada orang yang masuk surga kecuali Ibu dan pembantu Ibu?'
Ibu tua itu menimbang-nimbang sejenak, lalu menjawab:
'Mengenai pembantuku Minah, saya kurang begitu yakin.'
Pada suatu hari seorang wartawan, yang secara tulus ingin mengetahui keyakinan dan pendiriannya, bertanya:
Apakah Ibu betul-betul percaya, seperti dikatakan banyak orang, bahwa tidak ada orang yang masuk surga kecuali Ibu dan pembantu Ibu?'
Ibu tua itu menimbang-nimbang sejenak, lalu menjawab:
'Mengenai pembantuku Minah, saya kurang begitu yakin.'
SETAN DAN TEMANNYA
Pada suatu hari setan berjalan-jalan dengan seorang temannya. Mereka melihat seseorang membungkuk dan memungut sesuatu dari jalan.
'Apa yang ditemukan orang itu?' tanya si teman.
'Sekeping kebenaran,' jawab setan.
'Itu tidak merisaukanmu?' tanya si teman.
'Tidak,' jawab setan. 'Saya akan membiarkan dia menjadikannya kepercayaan agama.'
Kepercayaan agama merupakan suatu tanda, yang menunjukkan jalan kepada kebenaran. Orang yang kuat-kuat berpegang pada penunjuk jalan, tidak dapat berjalan terus menuju kebenaran. Sebab, ia mengira seakan-akan sudah memilikinya.
'Apa yang ditemukan orang itu?' tanya si teman.
'Sekeping kebenaran,' jawab setan.
'Itu tidak merisaukanmu?' tanya si teman.
'Tidak,' jawab setan. 'Saya akan membiarkan dia menjadikannya kepercayaan agama.'
Kepercayaan agama merupakan suatu tanda, yang menunjukkan jalan kepada kebenaran. Orang yang kuat-kuat berpegang pada penunjuk jalan, tidak dapat berjalan terus menuju kebenaran. Sebab, ia mengira seakan-akan sudah memilikinya.
SOKRATES DI PASAR
Sokrates, seorang filsuf sejati, yakin bahwa orang yang
bijaksana dengan sendirinya akan hidup sederhana. Ia sendiri
tidak memakai sepatu; namun ia terus-menerus tertarik oleh
keramaian pasar dan sering pergi ke sana untuk melihat
segala macam barang yang dipertontonkan.
Ketika salah seorang kawannya bertanya mengapa demikian,
Sokrates berkata, "Saya senang pergi ke sana untuk
mengetahui berapa banyak barang yang meskipun tidak
memilikinya, saya tetap gembira."
Hidup batin adalah tidak mengetahui apa yang engkau
kehendaki tetapi memahami yang tidak engkau butuhkan.
bijaksana dengan sendirinya akan hidup sederhana. Ia sendiri
tidak memakai sepatu; namun ia terus-menerus tertarik oleh
keramaian pasar dan sering pergi ke sana untuk melihat
segala macam barang yang dipertontonkan.
Ketika salah seorang kawannya bertanya mengapa demikian,
Sokrates berkata, "Saya senang pergi ke sana untuk
mengetahui berapa banyak barang yang meskipun tidak
memilikinya, saya tetap gembira."
Hidup batin adalah tidak mengetahui apa yang engkau
kehendaki tetapi memahami yang tidak engkau butuhkan.
DUA MACAM HARI SABAT
Di antara orang Yahudi penyucian hari Sabat, hari Tuhan, itu
pada mulanya suatu kegembiraan, tetapi terlalu banyak rabbi
terus memasukkan tambahan satu demi satu, bagaimana itu
harus dilakukan secara tepat, tindakan apa yang diizinkan,
hingga sementara orang merasa hampir tidak bisa bergerak
sepanjang Sabat, kalau salah satu peraturan mungkin bisa
dilanggar.
Baal Shem, putra Eliezer, banyak memikirkan hal ini. Pada
suatu malam ia bermimpi. Seorang malaikat membawa dia ke
surga dan menunjukkan dua takhta ditempatkan tinggi
mengatasi lainnya.
"Bagi siapa itu diperuntukkan?" ia bertanya.
"Untuk engkau," jawabnya, "jika engkau menggunakan
akal-budimu, dan untuk orang, yang nama serta alamatnya
sedang ditulis dan akan diberikan kepadamu."
Lalu ia dibawa ke tempat paling dalam di neraka dan
ditunjukkan dua tempat kosong. "Ini disiapkan untuk siapa?"
ia bertanya.
"Untuk engkau," jawabnya, "jika engkau tidak menggunakan
akal-budimu: dan untuk orang, yang nama dan alamatnya sedang
ditulis untuk engkau."
Di dalam mimpi Baal Shem mengunjungi orang, yang akan
menjadi temannya di firdaus. Ia menemukan dia bermukim di
tengah orang kafir, tak tahu menahu tentang adat Yahudi, dan
pada hari Sabat, ia mengadakan perjamuan dengan banyak acara
gembira, dan di situ semua tetangga kafir diundang. Dan
ketika Baal Shem bertanya, mengapa ia mengadakan perjamuan
itu, ia dijawab: "Aku ingat, bahwa waktu kecil aku diajar
orangtuaku, bahwa hari Sabat itu untuk mengaso dan
bergembira, maka pada hari Sabtu ibuku itu menghidangkan
makanan paling mewah: di situ kami bernyanyi, menari dan
bergembira. Aku berbuat yang sama pada hari ini."
Baal Shem mencoba mengajar orang itu tentang cara menghayati
agamanya, sebab ia lahir Yahudi, tetapi ternyata sama sekali
tidak tahu tentang peraturan para rabbi. Tetapi ia terdiam
kelu, ketika menyadari, bahwa kegembiraan orang tadi pada
hari Sabat akan terganggu, jika ia disadarkan akan
kekurangannya.
Baal Shem, masih dalam mimpinya, lalu pergi ke rumah
temannya di neraka. Ia menemukan orang itu sebagai penganut
Hukum ketat, selalu waspada, jangan ada tindakannya yang
tidak tertib. Orang celaka itu setiap hari Sabat hidup
kalut, seakan-akan ia duduk atas api membara. Ketika Baal
Shem mau memperingatkan dia akan perbudakan Hukum,
kemampuannya untuk berbicara hilang, karena ia sadar, bahwa
orang itu tidak akan mengerti, bahwa ia bisa berbuat salah
dengan menepati peraturan agama.
Berkat pewahyuan yang diberikan kepadanya lewat mimpi, Baal
Shem Tor mengembangkan cara baru untuk kebaktian, di mana
Tuhan disembah dengan gembira, yang datang dari hati.
Jika orang bersukacita ia selalu baik, tetapi bila mereka
baik, mereka jarang bersukacita.
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
pada mulanya suatu kegembiraan, tetapi terlalu banyak rabbi
terus memasukkan tambahan satu demi satu, bagaimana itu
harus dilakukan secara tepat, tindakan apa yang diizinkan,
hingga sementara orang merasa hampir tidak bisa bergerak
sepanjang Sabat, kalau salah satu peraturan mungkin bisa
dilanggar.
Baal Shem, putra Eliezer, banyak memikirkan hal ini. Pada
suatu malam ia bermimpi. Seorang malaikat membawa dia ke
surga dan menunjukkan dua takhta ditempatkan tinggi
mengatasi lainnya.
"Bagi siapa itu diperuntukkan?" ia bertanya.
"Untuk engkau," jawabnya, "jika engkau menggunakan
akal-budimu, dan untuk orang, yang nama serta alamatnya
sedang ditulis dan akan diberikan kepadamu."
Lalu ia dibawa ke tempat paling dalam di neraka dan
ditunjukkan dua tempat kosong. "Ini disiapkan untuk siapa?"
ia bertanya.
"Untuk engkau," jawabnya, "jika engkau tidak menggunakan
akal-budimu: dan untuk orang, yang nama dan alamatnya sedang
ditulis untuk engkau."
Di dalam mimpi Baal Shem mengunjungi orang, yang akan
menjadi temannya di firdaus. Ia menemukan dia bermukim di
tengah orang kafir, tak tahu menahu tentang adat Yahudi, dan
pada hari Sabat, ia mengadakan perjamuan dengan banyak acara
gembira, dan di situ semua tetangga kafir diundang. Dan
ketika Baal Shem bertanya, mengapa ia mengadakan perjamuan
itu, ia dijawab: "Aku ingat, bahwa waktu kecil aku diajar
orangtuaku, bahwa hari Sabat itu untuk mengaso dan
bergembira, maka pada hari Sabtu ibuku itu menghidangkan
makanan paling mewah: di situ kami bernyanyi, menari dan
bergembira. Aku berbuat yang sama pada hari ini."
Baal Shem mencoba mengajar orang itu tentang cara menghayati
agamanya, sebab ia lahir Yahudi, tetapi ternyata sama sekali
tidak tahu tentang peraturan para rabbi. Tetapi ia terdiam
kelu, ketika menyadari, bahwa kegembiraan orang tadi pada
hari Sabat akan terganggu, jika ia disadarkan akan
kekurangannya.
Baal Shem, masih dalam mimpinya, lalu pergi ke rumah
temannya di neraka. Ia menemukan orang itu sebagai penganut
Hukum ketat, selalu waspada, jangan ada tindakannya yang
tidak tertib. Orang celaka itu setiap hari Sabat hidup
kalut, seakan-akan ia duduk atas api membara. Ketika Baal
Shem mau memperingatkan dia akan perbudakan Hukum,
kemampuannya untuk berbicara hilang, karena ia sadar, bahwa
orang itu tidak akan mengerti, bahwa ia bisa berbuat salah
dengan menepati peraturan agama.
Berkat pewahyuan yang diberikan kepadanya lewat mimpi, Baal
Shem Tor mengembangkan cara baru untuk kebaktian, di mana
Tuhan disembah dengan gembira, yang datang dari hati.
Jika orang bersukacita ia selalu baik, tetapi bila mereka
baik, mereka jarang bersukacita.
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
BERHATI-HATILAH
Imam mengumumkan, bahwa Yesus Kristus sendiri akan datang di
Gereja Minggu berikutnya. Umat datang berbondong-bondong
untuk melihat Dia. Setiap orang mengharapkan Ia akan
berkhotbah, tetapi Ia hanya tersenyum, ketika diperkenalkan
dan berkata: "Selamat." Setiap orang mau menerima-Nya untuk
bermalam, khususnya imam, tetapi Ia menolak dengan sopan. Ia
berkata, Ia semalam mau tinggal di gereja. Memang wajar,
pikir mereka semua.
Ia menghilang esok harinya, sebelum pintu gereja dibuka.
Dan, ngeri rasanya, imam dan umat menemukan gereja
porak-poranda. Tertulis di mana-mana pada dinding satu kata
WASPADA. Tak ada bagian gereja yang terlewatkan, pintu dan
jendela, pilar dan mimbar, altar. Bahkan pada Kitab Suci di
atas standar: WASPADA. Coret-coret dengan huruf besar dan
kecil, dengan pensil dan pena dan cat dalam berbagai warna.
Ke mana mata memandang, orang bisa membaca. "WASPADA,"
waspada. Waspada, WASPADA, waspada, waspada.
Menjengkelkan. Buat marah. Mengacau. Menggelitik.
Menakutkan. Mereka diandaikan harus waspada apa? Itu tidak
dikata. Hanya dikatakan, WASPADA. Dorongan pertama umat mau
menghapus tiap bekas pengotoran ini, ini penghojatan. Mereka
tertahan berbuat begitu, hanya karena pemikiran, bahwa Yesus
sendiri yang melakukan perbuatan itu.
Kini kata misterius WASPADA mulai meresap dalam pemikiran
umat, setiap kali mereka masuk gereja. Mereka mulai waspada
terhadap Kitab Suci, hingga mereka bisa mengambil manfaat
dari Kitab, tanpa jadi fanatik. Mereka jadi waspada terhadap
sakramen, jadi mereka disucikan tanpa jatuh dalam
kesia-siaan. Imam mulai waspada terhadap kekuasaannya atas
umat, maka ia bisa menolong tanpa menguasai. Dan setiap
orang jadi waspada terhadap agama, yang membuat orang tanpa
sadar menjadi munafik. Mereka jadi waspada terhadap Hukum
Gereja, lalu jadi patuh pada hukum, tetapi berbelaskasih
terhadap si lemah. Mereka mulai waspada terhadap doa, hingga
mereka berhenti mengandalkan diri sendiri. Mereka bahkan
waspada terhadap pengertian mereka tentang Allah, maka
mereka mengenali-Nya juga di luar batas-batas kesempitan
Gereja sendiri.
Sekarang mereka malah menuliskan kata haram itu pada pintu
masuk gereja dan kalau anda lewat di waktu malam. Anda
melihatnya gemerlapan di atas gereja dalam terang lampu neon
berwarna-warni.
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
Gereja Minggu berikutnya. Umat datang berbondong-bondong
untuk melihat Dia. Setiap orang mengharapkan Ia akan
berkhotbah, tetapi Ia hanya tersenyum, ketika diperkenalkan
dan berkata: "Selamat." Setiap orang mau menerima-Nya untuk
bermalam, khususnya imam, tetapi Ia menolak dengan sopan. Ia
berkata, Ia semalam mau tinggal di gereja. Memang wajar,
pikir mereka semua.
Ia menghilang esok harinya, sebelum pintu gereja dibuka.
Dan, ngeri rasanya, imam dan umat menemukan gereja
porak-poranda. Tertulis di mana-mana pada dinding satu kata
WASPADA. Tak ada bagian gereja yang terlewatkan, pintu dan
jendela, pilar dan mimbar, altar. Bahkan pada Kitab Suci di
atas standar: WASPADA. Coret-coret dengan huruf besar dan
kecil, dengan pensil dan pena dan cat dalam berbagai warna.
Ke mana mata memandang, orang bisa membaca. "WASPADA,"
waspada. Waspada, WASPADA, waspada, waspada.
Menjengkelkan. Buat marah. Mengacau. Menggelitik.
Menakutkan. Mereka diandaikan harus waspada apa? Itu tidak
dikata. Hanya dikatakan, WASPADA. Dorongan pertama umat mau
menghapus tiap bekas pengotoran ini, ini penghojatan. Mereka
tertahan berbuat begitu, hanya karena pemikiran, bahwa Yesus
sendiri yang melakukan perbuatan itu.
Kini kata misterius WASPADA mulai meresap dalam pemikiran
umat, setiap kali mereka masuk gereja. Mereka mulai waspada
terhadap Kitab Suci, hingga mereka bisa mengambil manfaat
dari Kitab, tanpa jadi fanatik. Mereka jadi waspada terhadap
sakramen, jadi mereka disucikan tanpa jatuh dalam
kesia-siaan. Imam mulai waspada terhadap kekuasaannya atas
umat, maka ia bisa menolong tanpa menguasai. Dan setiap
orang jadi waspada terhadap agama, yang membuat orang tanpa
sadar menjadi munafik. Mereka jadi waspada terhadap Hukum
Gereja, lalu jadi patuh pada hukum, tetapi berbelaskasih
terhadap si lemah. Mereka mulai waspada terhadap doa, hingga
mereka berhenti mengandalkan diri sendiri. Mereka bahkan
waspada terhadap pengertian mereka tentang Allah, maka
mereka mengenali-Nya juga di luar batas-batas kesempitan
Gereja sendiri.
Sekarang mereka malah menuliskan kata haram itu pada pintu
masuk gereja dan kalau anda lewat di waktu malam. Anda
melihatnya gemerlapan di atas gereja dalam terang lampu neon
berwarna-warni.
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
Langganan:
Postingan (Atom)