Aku dan temanku pergi ke 'Pasar malam agama.' Bukan pasar dagang. Pasar agama. Tetapi persaingannya sama sengitnya, propagandanya pun sama hebatnya.
Di kios Yahudi kami mendapat selebaran yang mengatakan bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan bahwa bangsa Yahudi adalah umat pilihanNya. Ya, bangsa Yahudi. Tidak ada bangsa lain yang terpilih seperti bangsa Yahudi.
Di kios Islam kami mendengar, bahwa Allah itu Maha Penyayang dan Muhammad ialah nabiNya. Keselamatan diperoleh dengan mendengarkan Nabi Tuhan yang satu-satunya itu.
Di kios Kristen kami menemukan, bahwa Tuhan adalah Cinta dan bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan. Silahkan mengikuti Gereja Kudus jika tidak ingin mengambil risiko masuk neraka.
Di pintu keluar aku bertanya kepada temanku: 'Apakah pendapatmu tentang Tuhan?' Jawabnya: 'Rupanya Ia penipu, fanatik dan bengis.'
Sampai di rumah aku berkata kepada Tuhan: 'Bagaimana Engkau bisa tahan dengan hal seperti ini, Tuhan? Apakah Engkau tidak tahu, bahwa selama berabad-abad mereka memberi julukan jelek kepadaMu?'
Tuhan berkata: 'Bukan Aku yang mengadakan 'Pasar malam agama' itu. Aku bahkan merasa terlalu malu untuk mengunjunginya.'
Selasa, 27 November 2007
PEMUDA ARAB YANG SEDERHANA
Guru Arab Jalalud-Din Rumi senang sekali menceritakan kisah berikut ini:
Pada suatu hari Nabi Muhammad sedang bersembahyang subuh di mesjid. Di antara orang-orang yang ikut berdoa dengan Nabi adalah seorang pemuda Arab.
Nabi mulai membaca Qur'an dan mendaras ayat yang menyatakan perkataan Firaun: 'Aku ini dewa yang benar.' Mendengar perkataan itu pemuda yang baik itu tiba-tiba menjadi marah. Ia memecah keheningan dengan berteriak: 'Pembual busuk, bangsat dia!'
Nabi berdiam diri. Tetapi seusai sembahyang, orang-orang lain mencela orang Arab itu dengan gusar: 'Apakah engkau tidak tahu malu? Niscaya doamu tidak berkenan kepada Tuhan. Sebab, engkau tidak hanya merusak kekhusukan suasana doa, tetapi juga mengucapkan kata-kata kotor di hadapan Rasul Allah.'
Wajah pemuda yang malang itu menjadi merah padam dan ia gemetar ketakutan, sampai-sampai Malaikat Jibrail menampakkan diri pada Nabi dan bersabda: 'Assalamuallaikum! Allah berfirman agar engkau menyuruh orang banyak berhenti mencaci-maki pemuda yang sederhana ini. Sungguh, sumpah serapahnya yang jujur berkenan di hatiKu, melebihi doa orang-orang saleh.'
Bila kita berdoa, Tuhan melihat ke dalam hati kita dan bukan pada rumusan kata-kata.
Pada suatu hari Nabi Muhammad sedang bersembahyang subuh di mesjid. Di antara orang-orang yang ikut berdoa dengan Nabi adalah seorang pemuda Arab.
Nabi mulai membaca Qur'an dan mendaras ayat yang menyatakan perkataan Firaun: 'Aku ini dewa yang benar.' Mendengar perkataan itu pemuda yang baik itu tiba-tiba menjadi marah. Ia memecah keheningan dengan berteriak: 'Pembual busuk, bangsat dia!'
Nabi berdiam diri. Tetapi seusai sembahyang, orang-orang lain mencela orang Arab itu dengan gusar: 'Apakah engkau tidak tahu malu? Niscaya doamu tidak berkenan kepada Tuhan. Sebab, engkau tidak hanya merusak kekhusukan suasana doa, tetapi juga mengucapkan kata-kata kotor di hadapan Rasul Allah.'
Wajah pemuda yang malang itu menjadi merah padam dan ia gemetar ketakutan, sampai-sampai Malaikat Jibrail menampakkan diri pada Nabi dan bersabda: 'Assalamuallaikum! Allah berfirman agar engkau menyuruh orang banyak berhenti mencaci-maki pemuda yang sederhana ini. Sungguh, sumpah serapahnya yang jujur berkenan di hatiKu, melebihi doa orang-orang saleh.'
Bila kita berdoa, Tuhan melihat ke dalam hati kita dan bukan pada rumusan kata-kata.
AGAMA SEORANG IBU TUA
Seorang ibu tua yang terlalu saleh, kurang puas dengan semua agama yang ada. Maka ia mendirikan agamanya sendiri.
Pada suatu hari seorang wartawan, yang secara tulus ingin mengetahui keyakinan dan pendiriannya, bertanya:
Apakah Ibu betul-betul percaya, seperti dikatakan banyak orang, bahwa tidak ada orang yang masuk surga kecuali Ibu dan pembantu Ibu?'
Ibu tua itu menimbang-nimbang sejenak, lalu menjawab:
'Mengenai pembantuku Minah, saya kurang begitu yakin.'
Pada suatu hari seorang wartawan, yang secara tulus ingin mengetahui keyakinan dan pendiriannya, bertanya:
Apakah Ibu betul-betul percaya, seperti dikatakan banyak orang, bahwa tidak ada orang yang masuk surga kecuali Ibu dan pembantu Ibu?'
Ibu tua itu menimbang-nimbang sejenak, lalu menjawab:
'Mengenai pembantuku Minah, saya kurang begitu yakin.'
SETAN DAN TEMANNYA
Pada suatu hari setan berjalan-jalan dengan seorang temannya. Mereka melihat seseorang membungkuk dan memungut sesuatu dari jalan.
'Apa yang ditemukan orang itu?' tanya si teman.
'Sekeping kebenaran,' jawab setan.
'Itu tidak merisaukanmu?' tanya si teman.
'Tidak,' jawab setan. 'Saya akan membiarkan dia menjadikannya kepercayaan agama.'
Kepercayaan agama merupakan suatu tanda, yang menunjukkan jalan kepada kebenaran. Orang yang kuat-kuat berpegang pada penunjuk jalan, tidak dapat berjalan terus menuju kebenaran. Sebab, ia mengira seakan-akan sudah memilikinya.
'Apa yang ditemukan orang itu?' tanya si teman.
'Sekeping kebenaran,' jawab setan.
'Itu tidak merisaukanmu?' tanya si teman.
'Tidak,' jawab setan. 'Saya akan membiarkan dia menjadikannya kepercayaan agama.'
Kepercayaan agama merupakan suatu tanda, yang menunjukkan jalan kepada kebenaran. Orang yang kuat-kuat berpegang pada penunjuk jalan, tidak dapat berjalan terus menuju kebenaran. Sebab, ia mengira seakan-akan sudah memilikinya.
SOKRATES DI PASAR
Sokrates, seorang filsuf sejati, yakin bahwa orang yang
bijaksana dengan sendirinya akan hidup sederhana. Ia sendiri
tidak memakai sepatu; namun ia terus-menerus tertarik oleh
keramaian pasar dan sering pergi ke sana untuk melihat
segala macam barang yang dipertontonkan.
Ketika salah seorang kawannya bertanya mengapa demikian,
Sokrates berkata, "Saya senang pergi ke sana untuk
mengetahui berapa banyak barang yang meskipun tidak
memilikinya, saya tetap gembira."
Hidup batin adalah tidak mengetahui apa yang engkau
kehendaki tetapi memahami yang tidak engkau butuhkan.
bijaksana dengan sendirinya akan hidup sederhana. Ia sendiri
tidak memakai sepatu; namun ia terus-menerus tertarik oleh
keramaian pasar dan sering pergi ke sana untuk melihat
segala macam barang yang dipertontonkan.
Ketika salah seorang kawannya bertanya mengapa demikian,
Sokrates berkata, "Saya senang pergi ke sana untuk
mengetahui berapa banyak barang yang meskipun tidak
memilikinya, saya tetap gembira."
Hidup batin adalah tidak mengetahui apa yang engkau
kehendaki tetapi memahami yang tidak engkau butuhkan.
DUA MACAM HARI SABAT
Di antara orang Yahudi penyucian hari Sabat, hari Tuhan, itu
pada mulanya suatu kegembiraan, tetapi terlalu banyak rabbi
terus memasukkan tambahan satu demi satu, bagaimana itu
harus dilakukan secara tepat, tindakan apa yang diizinkan,
hingga sementara orang merasa hampir tidak bisa bergerak
sepanjang Sabat, kalau salah satu peraturan mungkin bisa
dilanggar.
Baal Shem, putra Eliezer, banyak memikirkan hal ini. Pada
suatu malam ia bermimpi. Seorang malaikat membawa dia ke
surga dan menunjukkan dua takhta ditempatkan tinggi
mengatasi lainnya.
"Bagi siapa itu diperuntukkan?" ia bertanya.
"Untuk engkau," jawabnya, "jika engkau menggunakan
akal-budimu, dan untuk orang, yang nama serta alamatnya
sedang ditulis dan akan diberikan kepadamu."
Lalu ia dibawa ke tempat paling dalam di neraka dan
ditunjukkan dua tempat kosong. "Ini disiapkan untuk siapa?"
ia bertanya.
"Untuk engkau," jawabnya, "jika engkau tidak menggunakan
akal-budimu: dan untuk orang, yang nama dan alamatnya sedang
ditulis untuk engkau."
Di dalam mimpi Baal Shem mengunjungi orang, yang akan
menjadi temannya di firdaus. Ia menemukan dia bermukim di
tengah orang kafir, tak tahu menahu tentang adat Yahudi, dan
pada hari Sabat, ia mengadakan perjamuan dengan banyak acara
gembira, dan di situ semua tetangga kafir diundang. Dan
ketika Baal Shem bertanya, mengapa ia mengadakan perjamuan
itu, ia dijawab: "Aku ingat, bahwa waktu kecil aku diajar
orangtuaku, bahwa hari Sabat itu untuk mengaso dan
bergembira, maka pada hari Sabtu ibuku itu menghidangkan
makanan paling mewah: di situ kami bernyanyi, menari dan
bergembira. Aku berbuat yang sama pada hari ini."
Baal Shem mencoba mengajar orang itu tentang cara menghayati
agamanya, sebab ia lahir Yahudi, tetapi ternyata sama sekali
tidak tahu tentang peraturan para rabbi. Tetapi ia terdiam
kelu, ketika menyadari, bahwa kegembiraan orang tadi pada
hari Sabat akan terganggu, jika ia disadarkan akan
kekurangannya.
Baal Shem, masih dalam mimpinya, lalu pergi ke rumah
temannya di neraka. Ia menemukan orang itu sebagai penganut
Hukum ketat, selalu waspada, jangan ada tindakannya yang
tidak tertib. Orang celaka itu setiap hari Sabat hidup
kalut, seakan-akan ia duduk atas api membara. Ketika Baal
Shem mau memperingatkan dia akan perbudakan Hukum,
kemampuannya untuk berbicara hilang, karena ia sadar, bahwa
orang itu tidak akan mengerti, bahwa ia bisa berbuat salah
dengan menepati peraturan agama.
Berkat pewahyuan yang diberikan kepadanya lewat mimpi, Baal
Shem Tor mengembangkan cara baru untuk kebaktian, di mana
Tuhan disembah dengan gembira, yang datang dari hati.
Jika orang bersukacita ia selalu baik, tetapi bila mereka
baik, mereka jarang bersukacita.
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
pada mulanya suatu kegembiraan, tetapi terlalu banyak rabbi
terus memasukkan tambahan satu demi satu, bagaimana itu
harus dilakukan secara tepat, tindakan apa yang diizinkan,
hingga sementara orang merasa hampir tidak bisa bergerak
sepanjang Sabat, kalau salah satu peraturan mungkin bisa
dilanggar.
Baal Shem, putra Eliezer, banyak memikirkan hal ini. Pada
suatu malam ia bermimpi. Seorang malaikat membawa dia ke
surga dan menunjukkan dua takhta ditempatkan tinggi
mengatasi lainnya.
"Bagi siapa itu diperuntukkan?" ia bertanya.
"Untuk engkau," jawabnya, "jika engkau menggunakan
akal-budimu, dan untuk orang, yang nama serta alamatnya
sedang ditulis dan akan diberikan kepadamu."
Lalu ia dibawa ke tempat paling dalam di neraka dan
ditunjukkan dua tempat kosong. "Ini disiapkan untuk siapa?"
ia bertanya.
"Untuk engkau," jawabnya, "jika engkau tidak menggunakan
akal-budimu: dan untuk orang, yang nama dan alamatnya sedang
ditulis untuk engkau."
Di dalam mimpi Baal Shem mengunjungi orang, yang akan
menjadi temannya di firdaus. Ia menemukan dia bermukim di
tengah orang kafir, tak tahu menahu tentang adat Yahudi, dan
pada hari Sabat, ia mengadakan perjamuan dengan banyak acara
gembira, dan di situ semua tetangga kafir diundang. Dan
ketika Baal Shem bertanya, mengapa ia mengadakan perjamuan
itu, ia dijawab: "Aku ingat, bahwa waktu kecil aku diajar
orangtuaku, bahwa hari Sabat itu untuk mengaso dan
bergembira, maka pada hari Sabtu ibuku itu menghidangkan
makanan paling mewah: di situ kami bernyanyi, menari dan
bergembira. Aku berbuat yang sama pada hari ini."
Baal Shem mencoba mengajar orang itu tentang cara menghayati
agamanya, sebab ia lahir Yahudi, tetapi ternyata sama sekali
tidak tahu tentang peraturan para rabbi. Tetapi ia terdiam
kelu, ketika menyadari, bahwa kegembiraan orang tadi pada
hari Sabat akan terganggu, jika ia disadarkan akan
kekurangannya.
Baal Shem, masih dalam mimpinya, lalu pergi ke rumah
temannya di neraka. Ia menemukan orang itu sebagai penganut
Hukum ketat, selalu waspada, jangan ada tindakannya yang
tidak tertib. Orang celaka itu setiap hari Sabat hidup
kalut, seakan-akan ia duduk atas api membara. Ketika Baal
Shem mau memperingatkan dia akan perbudakan Hukum,
kemampuannya untuk berbicara hilang, karena ia sadar, bahwa
orang itu tidak akan mengerti, bahwa ia bisa berbuat salah
dengan menepati peraturan agama.
Berkat pewahyuan yang diberikan kepadanya lewat mimpi, Baal
Shem Tor mengembangkan cara baru untuk kebaktian, di mana
Tuhan disembah dengan gembira, yang datang dari hati.
Jika orang bersukacita ia selalu baik, tetapi bila mereka
baik, mereka jarang bersukacita.
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
BERHATI-HATILAH
Imam mengumumkan, bahwa Yesus Kristus sendiri akan datang di
Gereja Minggu berikutnya. Umat datang berbondong-bondong
untuk melihat Dia. Setiap orang mengharapkan Ia akan
berkhotbah, tetapi Ia hanya tersenyum, ketika diperkenalkan
dan berkata: "Selamat." Setiap orang mau menerima-Nya untuk
bermalam, khususnya imam, tetapi Ia menolak dengan sopan. Ia
berkata, Ia semalam mau tinggal di gereja. Memang wajar,
pikir mereka semua.
Ia menghilang esok harinya, sebelum pintu gereja dibuka.
Dan, ngeri rasanya, imam dan umat menemukan gereja
porak-poranda. Tertulis di mana-mana pada dinding satu kata
WASPADA. Tak ada bagian gereja yang terlewatkan, pintu dan
jendela, pilar dan mimbar, altar. Bahkan pada Kitab Suci di
atas standar: WASPADA. Coret-coret dengan huruf besar dan
kecil, dengan pensil dan pena dan cat dalam berbagai warna.
Ke mana mata memandang, orang bisa membaca. "WASPADA,"
waspada. Waspada, WASPADA, waspada, waspada.
Menjengkelkan. Buat marah. Mengacau. Menggelitik.
Menakutkan. Mereka diandaikan harus waspada apa? Itu tidak
dikata. Hanya dikatakan, WASPADA. Dorongan pertama umat mau
menghapus tiap bekas pengotoran ini, ini penghojatan. Mereka
tertahan berbuat begitu, hanya karena pemikiran, bahwa Yesus
sendiri yang melakukan perbuatan itu.
Kini kata misterius WASPADA mulai meresap dalam pemikiran
umat, setiap kali mereka masuk gereja. Mereka mulai waspada
terhadap Kitab Suci, hingga mereka bisa mengambil manfaat
dari Kitab, tanpa jadi fanatik. Mereka jadi waspada terhadap
sakramen, jadi mereka disucikan tanpa jatuh dalam
kesia-siaan. Imam mulai waspada terhadap kekuasaannya atas
umat, maka ia bisa menolong tanpa menguasai. Dan setiap
orang jadi waspada terhadap agama, yang membuat orang tanpa
sadar menjadi munafik. Mereka jadi waspada terhadap Hukum
Gereja, lalu jadi patuh pada hukum, tetapi berbelaskasih
terhadap si lemah. Mereka mulai waspada terhadap doa, hingga
mereka berhenti mengandalkan diri sendiri. Mereka bahkan
waspada terhadap pengertian mereka tentang Allah, maka
mereka mengenali-Nya juga di luar batas-batas kesempitan
Gereja sendiri.
Sekarang mereka malah menuliskan kata haram itu pada pintu
masuk gereja dan kalau anda lewat di waktu malam. Anda
melihatnya gemerlapan di atas gereja dalam terang lampu neon
berwarna-warni.
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
Gereja Minggu berikutnya. Umat datang berbondong-bondong
untuk melihat Dia. Setiap orang mengharapkan Ia akan
berkhotbah, tetapi Ia hanya tersenyum, ketika diperkenalkan
dan berkata: "Selamat." Setiap orang mau menerima-Nya untuk
bermalam, khususnya imam, tetapi Ia menolak dengan sopan. Ia
berkata, Ia semalam mau tinggal di gereja. Memang wajar,
pikir mereka semua.
Ia menghilang esok harinya, sebelum pintu gereja dibuka.
Dan, ngeri rasanya, imam dan umat menemukan gereja
porak-poranda. Tertulis di mana-mana pada dinding satu kata
WASPADA. Tak ada bagian gereja yang terlewatkan, pintu dan
jendela, pilar dan mimbar, altar. Bahkan pada Kitab Suci di
atas standar: WASPADA. Coret-coret dengan huruf besar dan
kecil, dengan pensil dan pena dan cat dalam berbagai warna.
Ke mana mata memandang, orang bisa membaca. "WASPADA,"
waspada. Waspada, WASPADA, waspada, waspada.
Menjengkelkan. Buat marah. Mengacau. Menggelitik.
Menakutkan. Mereka diandaikan harus waspada apa? Itu tidak
dikata. Hanya dikatakan, WASPADA. Dorongan pertama umat mau
menghapus tiap bekas pengotoran ini, ini penghojatan. Mereka
tertahan berbuat begitu, hanya karena pemikiran, bahwa Yesus
sendiri yang melakukan perbuatan itu.
Kini kata misterius WASPADA mulai meresap dalam pemikiran
umat, setiap kali mereka masuk gereja. Mereka mulai waspada
terhadap Kitab Suci, hingga mereka bisa mengambil manfaat
dari Kitab, tanpa jadi fanatik. Mereka jadi waspada terhadap
sakramen, jadi mereka disucikan tanpa jatuh dalam
kesia-siaan. Imam mulai waspada terhadap kekuasaannya atas
umat, maka ia bisa menolong tanpa menguasai. Dan setiap
orang jadi waspada terhadap agama, yang membuat orang tanpa
sadar menjadi munafik. Mereka jadi waspada terhadap Hukum
Gereja, lalu jadi patuh pada hukum, tetapi berbelaskasih
terhadap si lemah. Mereka mulai waspada terhadap doa, hingga
mereka berhenti mengandalkan diri sendiri. Mereka bahkan
waspada terhadap pengertian mereka tentang Allah, maka
mereka mengenali-Nya juga di luar batas-batas kesempitan
Gereja sendiri.
Sekarang mereka malah menuliskan kata haram itu pada pintu
masuk gereja dan kalau anda lewat di waktu malam. Anda
melihatnya gemerlapan di atas gereja dalam terang lampu neon
berwarna-warni.
(DOA SANG KATAK 1, Anthony de Mello SJ,
TIGA PULUH TAHUN UNTUK PENERANGAN BATIN
Seorang muda datang kepada seorang Guru dan bertanya,
"Kira-kira saya membutuhkan berapa waktu untuk memperoleh
penerangan batin?"
Kata Guru itu, "Sepuluh tahun."
Orang muda itu terkejut. "Begitu lama?" tanyanya tidak
percaya.
Kata Guru itu, "Tidak, saya keliru. Engkau membutuhkan dua
puluh tahun."
Orang muda itu bertanya, "Mengapa Guru lipatkan dua?"
Guru itu berkata, "Coba pikirkan, dalam hal ini mungkin
engkau membutuhkan tiga puluh tahun."
Beberapa orang tidak pernah belajar sesuatu karena mereka
menggenggam segala sesuatu terlalu cepat. Kebijaksanaan
bukanlah suatu titik sampai akan tetapi suatu cara berjalan.
Kalau engkau berjalan terlalu cepat, engkau tidak akan
melihat pemandangan yang indah.
Dengan tepat mengerti ke mana engkau menuju mungkin adalah
cara yang paling tepat untuk tersesat. Tidak semua orang
bergelandangan tersesat.
(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
"Kira-kira saya membutuhkan berapa waktu untuk memperoleh
penerangan batin?"
Kata Guru itu, "Sepuluh tahun."
Orang muda itu terkejut. "Begitu lama?" tanyanya tidak
percaya.
Kata Guru itu, "Tidak, saya keliru. Engkau membutuhkan dua
puluh tahun."
Orang muda itu bertanya, "Mengapa Guru lipatkan dua?"
Guru itu berkata, "Coba pikirkan, dalam hal ini mungkin
engkau membutuhkan tiga puluh tahun."
Beberapa orang tidak pernah belajar sesuatu karena mereka
menggenggam segala sesuatu terlalu cepat. Kebijaksanaan
bukanlah suatu titik sampai akan tetapi suatu cara berjalan.
Kalau engkau berjalan terlalu cepat, engkau tidak akan
melihat pemandangan yang indah.
Dengan tepat mengerti ke mana engkau menuju mungkin adalah
cara yang paling tepat untuk tersesat. Tidak semua orang
bergelandangan tersesat.
(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
"SAKIT KEPALAMU PINDAH KE KEPALAKU"
Seorang muda yang sedang mempersiapkan diri untuk menjadi
pastor diberitahu bahwa yang diharapkan oleh umat ialah imam
yang dapat mendengarkan keluhan-keluhan mereka.
Mendengarkan, mendengarkan, mendengarkan ... Mungkin ia
tidak akan mampu membantu, namun ia selalu dapat
mendengarkan dengan penuh perhatian. Maka ia memutuskan
untuk mengerjakan itu kalau nanti ia diberi tugas di
parokinya yang pertama.
Betapa pun dirinya memberontak, ia memaksa diri untuk
mendengarkan, mendengarkan, mendengarkan ... dan orang
sangat menghargainya. Akan tetapi tampaknya ada sesuatu yang
tidak berjalan baik. Misalnya, seorang ibu tua datang dan
mengeluh bahwa ia sakit kepala. Sakit kepala itu sangat
nyeri. "Coba katakan, apa yang mengganggu," kata pastor itu
ramah. Lalu ibu tua itu berbicara, berbicara, berbicara
terus sementara pastor mendengarkan, mendengarkan dan
mendengarkan.
Tampaknya berhasil. "Pastor, satu jam yang lalu saya datang
kemari dengan kepala sakit. Dan sekarang sudah hilang,
hilang, hilang."
Dan pastor itu berpikir, "Saya mengerti, mengerti, mengerti.
Karena sekarang kepala saya yang sakit!"
(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
pastor diberitahu bahwa yang diharapkan oleh umat ialah imam
yang dapat mendengarkan keluhan-keluhan mereka.
Mendengarkan, mendengarkan, mendengarkan ... Mungkin ia
tidak akan mampu membantu, namun ia selalu dapat
mendengarkan dengan penuh perhatian. Maka ia memutuskan
untuk mengerjakan itu kalau nanti ia diberi tugas di
parokinya yang pertama.
Betapa pun dirinya memberontak, ia memaksa diri untuk
mendengarkan, mendengarkan, mendengarkan ... dan orang
sangat menghargainya. Akan tetapi tampaknya ada sesuatu yang
tidak berjalan baik. Misalnya, seorang ibu tua datang dan
mengeluh bahwa ia sakit kepala. Sakit kepala itu sangat
nyeri. "Coba katakan, apa yang mengganggu," kata pastor itu
ramah. Lalu ibu tua itu berbicara, berbicara, berbicara
terus sementara pastor mendengarkan, mendengarkan dan
mendengarkan.
Tampaknya berhasil. "Pastor, satu jam yang lalu saya datang
kemari dengan kepala sakit. Dan sekarang sudah hilang,
hilang, hilang."
Dan pastor itu berpikir, "Saya mengerti, mengerti, mengerti.
Karena sekarang kepala saya yang sakit!"
(DOA SANG KATAK 2, Anthony de Mello SJ,
Jumat, 09 November 2007
Sourcebook Pertengahan:
Thomas Aquinas:
Pada [atas] Yang sedang dan Inti sari ( TIDAK Ente Et ESSENTIA)
--------------------------------------------------------------------------------
TIDAK ENTE ET ESSENTIA [[ 1]]
Terjemahan© 1997 oleh Robert T. Miller[[2]]
Kata pendahuluan
Suatu kesalahan kecil terutama sekali dapat mendorong kearah kesalahan besar
di dalam kesimpulan akhir, seperti Ahli filsafat kata[kan [yang] aku
Tidak Caelo et Mundo Kopiah. 5 ( 271b8-13), dan seperti itu,karena; menjadi dan inti sari adalah berbagai hal lebih dulu membayangkan untuk akal, ketika Avicenna katakan Metaphysicae I,
kopiah. 6, dalam rangka menghindari kesalahan timbul dari
ketidak-tahuan tentang dua berbagai hal ini , kita [perlu] memecahkan
berbagai kesulitan melingkupi [mereka/nya] dengan menjelaskan apa [yang]
istilah menjadi dan inti sari masing-masing menandakan dan oleh
mengungkapkan bagaimana masing-masing mungkin (adalah) ditemukan dalam berbagai berbagai hal dan
bagaimana masing-masing dihubungkan dengan niat jenis yang logis, jenis, dan perbedaan.
Karena kita hendaknya memperoleh pengetahuan dari berbagai hal sederhana
dari orang-orang gabungan dan mengenali yang utama/lebih dulu dr awal, di (dalam) instruksikan pemula [yang] kita [perlu]
mulai dengan apa [yang] adalah lebih mudah, dan demikian kita akan mulai dengan
arti/pengertian menjadi dan berasal dari/disebabkan [di/ke] sana untuk
arti/pengertian inti sari.
Bab 1
[Seperti;Sebagai;Ketika] Ahli filsafat kata[kan V Metaphysicae Kopiah. 7
( 1017a22-35), menjadi mempunyai dua pikiran sehat. Di (dalam) satu [perasaan/pengertian],
menjadi menandakan yang adalah dibagi menjadi yang sepuluh
kategori; di (dalam) [perasaan/pengertian] lain, yang menandakan
kebenaran dalil. Perbedaan antar[a] ini adalah
bahwa, di (dalam) [perasaan/pengertian] yang kedua , apapun dapat [disebut/dipanggil] a
menjadi sekitar yang (mana) suatu dalil menyatakan dapat
yang dibentuk, sekalipun hal tidak mengusulkan sebagai fakta apapun pada kenyataannya.
Dengan cara ini, kekurangan dan peniadaan [disebut/dipanggil]
mahluk, seperti ketika kita kata[kan pernyataan itu dipertentangkan dengan
peniadaan, atau kebutaan itu adalah di (dalam) mata [itu]. Tetapi di (dalam)
[perasaan/pengertian] yang pertama, tidak ada apapun dapat [disebut/dipanggil] suatu mahluk kecuali jika itu
mengusulkan sebagai fakta sesuatu (yang) pada kenyataannya, dan [dengan] begitu di (dalam) ini dulu
merasakan kebutaan dan berbagai hal serupa tidak sedang.
Istilah inti sari tidaklah diambil dari sedang berada dalam yang kedua
[perasaan/pengertian], untuk/karena dalam hal ini beberapa berbagai hal [disebut/dipanggil] mahluk
itu tidak punya inti sari, [seperti halnya] jelas bersih dengan kekurangan.
Melainkan, istilah inti sari diambil dari sedang berada dalam
[perasaan/pengertian] yang pertama. [Dengan] begitu di (dalam) Metaphysicae V, com. 14,
Komentator menjelaskan teks yang dikutip dari Aristotle oleh
berkata mahluk itu, di (dalam) [perasaan/pengertian] yang pertama, adalah apa [yang]
menandakan inti sari suatu hal. Dan [karena;sejak], [seperti/ketika] dikatakan
di atas, yang sedang dalam hal ini adalah dibagi menjadi yang sepuluh
kategori, inti sari menandakan sesuatu (yang) umum [bagi/kepada] semua
alam[i] dengan mana berbagai mahluk ditempatkan
berbagai jenis dan jenis, [sebagai/ketika/sebab] ras manusia adalah
inti sari orang [laki-laki], dan seterusnya.
[Karena;Sejak] yang dengan mana suatu hal [didasari/buat] dalam nya
jenis atau jenis sesuai adalah apa [yang] ditandai oleh
definisi yang menandakan apa yang hal adalah, ahli filsafat
yang diperkenalkan istilah intisari untuk berarti sama halnya
inti sari istilah; dan ini adalah hal yang sama [bahwa/yang]
Ahli filsafat [yang] sering terminologi apa itu untuk menjadi hal,
itu adalah, bahwa dengan mana sesuatu (yang) mempunyai menjadi sebagai
macam tertentu hal. Inti sari adalah juga [disebut/dipanggil] format,
untuk/karena ketentuan dari tiap hal ditandai melalui/sampai
format nya, [sebagai/ketika/sebab] Avicenna kata[kan Metaphysicae nya I, kopiah.
6. Hal yang sama adalah juga [disebut/dipanggil] alam[i], mengambil alam[i]
di [dalam] pertama empat pikiran sehat bahwa Boethius
menciri buku nya Tidak Persona Et Duabus Naturis
kopiah. 1 ( PL 64, 1341B), di (dalam) [perasaan/pengertian], dengan kata lain,
alam[i] itu adalah apa yang [kita kami] [sebut/panggil/hubungi] semua hal yang dapat di (dalam) manapun
[jalan/cara] ditangkap oleh akal, untuk/karena suatu hal bukanlah
dapat dimengerti kecuali melalui/sampai definisi nya dan
inti sari. Dan demikian Ahli filsafat kata[kan V Metaphysicae
Kopiah. 4 ( 1014b36) bahwa tiap-tiap unsur adalah suatu alam[i]. Tetapi
istilah alam[i] yang digunakan dengan cara ini nampak untuk menandakan
inti sari suatu hal karena (itu) adanya [diperintah/ dipesan] kepada yang sesuai
operasi hal, untuk/karena tidak (ada) hal adalah tanpa nya
operasi sesuai. Istilah intisari, [yang] sungguh pasti, diambil
dari fakta bahwa ini adalah apa [yang] ditandai oleh
definisi. Tetapi hal yang sama [disebut/dipanggil] inti sari
sebab menjadi mempunyai keberadaan melalui [itu] dan dalam itu.
Tetapi sebab menjadi tentu saja/sungguh dan terutama semata dikatakan
unsur, dan hanya secondarily dan di (dalam) suatu tertentu
[perasaan/pengertian] berkata kecelakaan, inti sari terlalu dengan baik dan
sungguh-sungguh di (dalam) unsur dan adalah di (dalam) kecelakaan hanya di (dalam) a
[jalan/cara] tertentu dan di (dalam) suatu [perasaan/pengertian] tertentu. Sekarang beberapa
unsur adalah sederhana dan beberapa gabungan, dan
inti sari adalah di (dalam) kedua-duanya, meskipun [demikian] di (dalam) unsur yang sederhana di (dalam)
suatu truer dan [jalan/cara] [yang] lebih mulia, [seperti/ketika] ini mempunyai keberadaan di (dalam)
suatu nobler [jalan/cara]: tentu saja, unsur yang sederhana adalah
penyebab orang-orang gabungan, atau sedikitnya ini adalah benar
berkenaan dengan lebih dulu unsur sederhana, yang mana [adalah]
Tuhan. Hanyalah sebab inti sari unsur ini adalah
[yang] lebih tersembunyi dari [kita/kami], kita hendaknya mulai dengan
inti sari unsur gabungan, [sebagai/ketika/sebab] pelajaran adalah
lebih mudah ketika kita mulai dengan berbagai hal yang lebih mudah.
Bab II
Di (dalam) unsur gabungan [yang] kita temukan format dan perihal, seperti di
orang [laki-laki] ada jiwa dan badan. Kita tidak bisa kata[kan, bagaimanapun,
bahwa yang manapun ini adalah inti sari hal [itu]. Bahwa
berartilah sendiri bukanlah inti sari hal harus jelas,
(sebab) adalah melalui/sampai inti sari nya yang suatu hal adalah bisa mengetahui
dan ditempatkan [adalah] suatu jenis atau jenis. Tetapi perihal bukanlah
suatu prinsip pengamatan; maupun apapun ditentukan
untuk suatu jenis atau jenis menurut perihal nya tetapi
melainkan menurut apa [yang] sesuatu (yang) adalah di (dalam) tindakan. Maupun adalah
format sendiri inti sari suatu hal gabungan, bagaimanapun
banyak orang-orang tertentu boleh mencoba untuk menyatakan ini. Dari apa [yang]
telah dikatakan, itu telah jelas [bahwa/yang] inti sari adalah bahwa
yang mana [adalah] ditandai oleh definisi hal [itu].
Definisi suatu unsur alami, bagaimanapun, berisi
tidak hanya membentuk tetapi juga berarti; cara lainnya,
definisi [dari;ttg] berbagai hal alami dan mathematical orang-orang
tidak akan berbeda. Maupun dapat [itu] dikatakan perihal itu adalah
yang ditempatkan definisi suatu unsur alami [sebagai/ketika]
sesuatu (yang) ditambahkan kepada inti sari atau sebagai beberapa menjadi di luar
inti sari hal, untuk/karena bahwa jenis definisi
jadilah lebih sesuai ke kecelakaan, . yang manakah bukan mempunyai a
menyempurnakan inti sari dan yang meliputi definisi mereka
suatu pokok di luar jenis mereka sendiri. Oleh karena itu,
inti sari [yang] dengan jelas meliputi perihal kedua-duanya dan format.
Maupun dapat [itu] dikatakan bahwa inti sari menandakan hubungan [itu]
antar[a] perihal dan format atau apa begitu
superadded ke ini, untuk/karena kemudian inti sari akan
keperluan jadilah suatu kecelakaan dan ucapan tambahan kepada hal,
dan hal tidak akan dikenal melalui/sampai inti sari nya,
bertentangan dengan apa [yang] menyinggung [bagi/kepada] suatu inti sari. Melalui/Sampai
format, [yang] sungguh pasti, yang mana [adalah] tindakan perihal,
perihal dibuat suatu mahluk di (dalam) tindakan dan semacam tertentu
hal. Seperti itu, sesuatu yang supervenes tidak memberi
kepada keberadaan perihal di (dalam) tindakan [yang] hanya, tetapi lebih
keberadaan di (dalam) tindakan di (dalam) suatu [jalan/cara] tertentu, sama [halnya] kecelakaan
lakukan, seperti ketika sifat putih membuat sesuatu (yang) [yang] putih.
Karenanya, ketika format seperti itu diperoleh, kita tidak kata[kan
[bahwa/yang] hal dihasilkan hanya tetapi hanya di (dalam) a
[jalan/cara] tertentu.
Satu-Satunya kemungkinan, oleh karena itu, adalah bahwa istilah
inti sari, rasa hormat yang digunakan di ke unsur gabungan,
menandakan yang adalah terdiri atas perihal dan membentuk.
Kesimpulan ini adalah konsisten dengan apa [yang] Boethius kata[kan
di (dalam) komentar nya pada [atas] Kategori, [yang] yakni, bahwa
ousia menandakan apa [yang] adalah gabungan; ousia, tentu saja,
adalah untuk Greeks inti sari apa [yang] adalah untuk [kita/kami], [seperti/ketika] Boethius
[sen]dirinya kata[kan buku nya Tidak Persona Et Duabus
Naturis.[[3]] Avicenna genap kata[kan, Metaphysicae V, kopiah.
5, [bahwa/yang] intisari suatu unsur gabungan adalah
seluruh komposisi format dan perihal [itu]. Dan
menafsirkan Buku VII [dari;ttg] Metaphysicae Aristotle'S,
Komentator kata[kan, " Alam[I] yang jenis di (dalam)
berbagai hal generable mempunyai adalah sesuatu (yang) pertengahan; bahwa
adalah, [itu] adalah terdiri atas perihal dan format." Metaphysicae
VII, com. 27. Lebih dari itu, memberi alasan pen;dukungan pandangan ini, untuk/karena
keberadaan suatu unsur gabungan bukan format
sendiri maupun berarti sendiri tetapi adalah agak terdiri atas
ini. Inti sari adalah bahwa menurut yang mana
hal dikatakan kepada karenanya, [itu] benar [bahwa/yang]
inti sari dengan mana suatu hal dipanggil suatu mahluk adalah
[bukan/tidak] format sendiri tidak berarti sendiri tetapi kedua-duanya, sekalipun hanya
keberadaan itu [dari;ttg] sesama ini adalah disebabkan oleh format [itu] dan
bukan oleh perihal [itu]. [Yang] dengan cara yang sama, kita lihat bahwa di (dalam) lain
berbagai hal yang [didasari/buat] dari prinsip banyak orang,
hal tidaklah dipanggil dari hanya salah seorang
prinsip tetapi lebih dari yang memeluk
kedua-duanya. Seperti itu, berkenaan dengan selera, kemanisan adalah
disebabkan oleh tindakan suatu badan binatang hangat [yang] mencerna
apa [yang] adalah basah, dan sekalipun hanya bahwa dengan cara ini kehangatan/keramahan adalah
penyebab kemanisan, meskipun demikian suatu badan bukanlah
manis yang [disebut/dipanggil] dengan alasan kehangatan/keramahan, tetapi lebih oleh
pertimbangan bagi selera, yang memeluk kedua-duanya kehangatan/keramahan
dan kebasahan.
Tetapi sebab perihal adalah prinsip individuation,
[itu] akan barangkali nampak untuk mengikuti inti sari itu, yang
memeluk dengan sendirinya secara serempak kedua-duanya format dan
perihal, melulu tertentu dan tidak universal. Dari
ini [itu] akan mengikuti bahwa universal tidak punya
definisi, mengira bahwa inti sari adalah apa [yang] adalah
yang ditandai oleh definisi [itu]. Seperti itu, kita harus menunjuk
perihal itu memahami [jalan/cara] [yang] kita mempunyai sampai sekarang
yang dipahami bukan prinsip individuation;
hanya signate perihal adalah prinsip individuation.
Aku [sebut/panggil/hubungi] signate perihal perihal [yang] dipertimbangkan di bawah
dimensi mantap. Signate Perihal tidaklah dimasukkan
di (dalam) definisi orang [laki-laki] [sebagai/ketika] orang [laki-laki], tetapi signate perihal
akan tercakup di definisi Socrates jika
Socrates mempunyai suatu definisi. Di (dalam) definisi orang [laki-laki],
bagaimanapun, dimasukkan perihal non-signate: di (dalam)
definisi orang [laki-laki] [yang] kita tidak meliputi tulang ini dan ini
daging tetapi hanya tulang dan daging [yang] tentu saja/sungguh, yang adalah
perihal orang [laki-laki] yang non-signate.
Karenanya, inti sari orang [laki-laki] dan inti sari Socrates
jangan berbeda kecuali [seperti;sebagai;ketika] signate berbeda dengan
yang non-signate, dan demikian Komentator kata[kan, di (dalam)
Metaphysicae VII, com. 20, " Socrates adalah tidak ada apapun lain
dibanding animalas dan rasionalitas, yang adalah nya
intisari." [Yang] dengan cara yang sama, inti sari suatu jenis dan
inti sari suatu jenis berbeda [ketika;seperti] signate dari
non-signate, walaupun di (dalam) kasus jenis dan jenis
suatu gaya tujuan [yang] berbeda digunakan di rasa hormat
[bagi/kepada] kedua-duanya. Karena, tujuan yang individu dengan
menghormati kepada jenis jemu akan perihal yang ditentukan oleh
dimensi, [selagi/sedang] tujuan jenis dengan
menghormati kepada jenis jemu akan [itu] menurut konstitusi
perbedaan, yang mana [adalah] diambil dari format hal.
Tujuan Atau Penentuan ini, bagaimanapun, yang mana [adalah]
buatan jenis berkenaan dengan jenis, bukanlah
melalui/sampai sesuatu yang ada di [dalam] inti sari
jenis tetapi sama sekali tidak ada di [dalam] inti sari
jenis. Sebaliknya, apapun juga yang di (dalam) jenis adalah
juga di (dalam) jenis [sebagai/ketika] tak dapat ditentukan. Jika binatang bukanlah
semua yang orang [laki-laki] tidak lain dari melainkan hanya bagian dari dia, kemudian
binatang tidak akan jadilah untuk predicated orang [laki-laki], untuk/karena tidak (ada) [yang] integral
[part;bagian] adalah predicated tentang utuh nya .
Kita dapat lihat bagaimana ini terjadi dengan mempertimbangkan bagaimana badan [sebagai/ketika]
bagian dari binatang berbeda dengan badan [sebagai/ketika] jenis binatang. Di (dalam) badan [jalan/cara] adalah jenis binatang itu
tidak bisa jadilah suatu bagian integral binatang, dan [dengan] begitu
badan istilah dapat diterima beberapa jalan. Badan adalah
yang dikatakan kepada jadilah di (dalam) jenis unsur di (dalam) bahwa itu mempunyai a
alam[i] . seperti (itu) yang tiga dimensi dapat ditunjuk
badan [itu]. Tiga dimensi ditunjuk ini adalah
badan yang adalah di (dalam) jenis kwantitas. Sekarang, itu
kadang-kadang terjadi bahwa apa yang mempunyai satu kesempurnaan boleh
mencapai [bagi/kepada] suatu kesempurnaan lebih lanjut juga, [seperti halnya] jelas bersih
orang [laki-laki], [siapa] yang mempunyai suatu alam[i] sensitip dan, lebih lanjut, suatu
intellective satu. Dengan cara yang sama, di atas kesempurnaan ini
mempunyai;nikmati suatu format . seperti (itu) yang tiga dimensi dapat
yang ditunjuk di dalamnya, [di/ke] sana dapat dihubungkan yang lain
kesempurnaan, [sebagai/ketika/sebab] hidup atau beberapa hal serupa. Istilah ini
Badan, oleh karena itu, dapat menandakan suatu hal tertentu yang mempunyai
suatu format . seperti (itu) yang dari format [di/ke] sana mengikuti [itu]
hal designatabilas di (dalam) tiga dimensi dan tidak ada apapun
lebih [], . seperti (itu) yang, dengan kata lain, dari ini tidak membentuk apapun
kesempurnaan lebih lanjut mengikuti, tetapi jika beberapa hal lain adalah
superadded, [itu] adalah di luar arti/pengertian badan
[dengan] begitu memahami. Dan yang dipahami dengan cara ini, badan akan
jadilah suatu integral dan material bagian dari binatang,
sebab dengan cara ini jiwa akan [jadi] di luar apa [yang] adalah
yang ditandai oleh istilah badan, dan [itu] akan supervene terpasang
badan . seperti (itu) yang dari dua ini, yakni jiwa dan
badan, binatang [didasari/buat] terhitung sejak [part;bagian].
Istilah ini Badan dapat juga dipahami [ketika;seperti] menandakan a
hal tertentu yang mempunyai suatu format . seperti (itu) yang tiga
dimensi dapat ditunjuk di dalamnya, apapun juga [yang] format ini
mungkin, dan . seperti (itu) yang yang manapun dari format beberapa
kesempurnaan lebih lanjut dapat berproses atau bukan. yang dipahami
[Jalan/Cara] ini, Badan akan menjadi jenis binatang, untuk/karena [di/ke] sana
akan [jadi] dipahami binatang tidak ada yang bukanlah
badan secara implisit terdapat di. Sekarang, jiwa adalah suatu format
dengan mana [di/ke] sana dapat ditunjuk hal
tiga dimensi, dan oleh karena itu, ketika kita kata[kan badan itu
apa yang telah suatu format dari yang tiga dimensi dapat
yang ditunjuk badan, kita memahami ada beberapa
macam format [dari;ttg] ini mengetik, apakah jiwa, atau
lapideousness, atau apapun juga [yang] lain format. Dan [dengan] begitu
format binatang secara implisit dimasukkan dalam wujud
badan, sama [halnya] badan jenis nya .
Hubungan binatang ke orang [laki-laki] adalah sama. Untuk/Karena jika
binatang nama sekedar hal tertentu yang mempunyai a
kesempurnaan . seperti (itu) bahwa itu dapat merasakan dan pindah;gerakkan dengan a
prinsip yang ada dengan sendirinya, tanpa lain
kesempurnaan, kemudian apapun juga [yang] kesempurnaan
lebih lanjut boleh supervene akan dihubungkan dengan binatang sebagai komponen
[part;bagian], dan bukan sebagai secara implisit terdapat di dugaan binatang; dan dengan cara ini binatang tidak akan jadilah suatu jenis.
Tetapi binatang adalah suatu jenis di (dalam) bahwa itu menandakan suatu tertentu
hal dari format [di/yang/ttg] mana sensasi dan gerakan dapat
berproses, apapun juga [yang] format ini mungkin, apakah suatu masuk akal
jiwa saja, atau suatu jiwa kedua-duanya [yang] masuk akal dan masuk akal
Thomas Aquinas:
Pada [atas] Yang sedang dan Inti sari ( TIDAK Ente Et ESSENTIA)
--------------------------------------------------------------------------------
TIDAK ENTE ET ESSENTIA [[ 1]]
Terjemahan© 1997 oleh Robert T. Miller[[2]]
Kata pendahuluan
Suatu kesalahan kecil terutama sekali dapat mendorong kearah kesalahan besar
di dalam kesimpulan akhir, seperti Ahli filsafat kata[kan [yang] aku
Tidak Caelo et Mundo Kopiah. 5 ( 271b8-13), dan seperti itu,karena; menjadi dan inti sari adalah berbagai hal lebih dulu membayangkan untuk akal, ketika Avicenna katakan Metaphysicae I,
kopiah. 6, dalam rangka menghindari kesalahan timbul dari
ketidak-tahuan tentang dua berbagai hal ini , kita [perlu] memecahkan
berbagai kesulitan melingkupi [mereka/nya] dengan menjelaskan apa [yang]
istilah menjadi dan inti sari masing-masing menandakan dan oleh
mengungkapkan bagaimana masing-masing mungkin (adalah) ditemukan dalam berbagai berbagai hal dan
bagaimana masing-masing dihubungkan dengan niat jenis yang logis, jenis, dan perbedaan.
Karena kita hendaknya memperoleh pengetahuan dari berbagai hal sederhana
dari orang-orang gabungan dan mengenali yang utama/lebih dulu dr awal, di (dalam) instruksikan pemula [yang] kita [perlu]
mulai dengan apa [yang] adalah lebih mudah, dan demikian kita akan mulai dengan
arti/pengertian menjadi dan berasal dari/disebabkan [di/ke] sana untuk
arti/pengertian inti sari.
Bab 1
[Seperti;Sebagai;Ketika] Ahli filsafat kata[kan V Metaphysicae Kopiah. 7
( 1017a22-35), menjadi mempunyai dua pikiran sehat. Di (dalam) satu [perasaan/pengertian],
menjadi menandakan yang adalah dibagi menjadi yang sepuluh
kategori; di (dalam) [perasaan/pengertian] lain, yang menandakan
kebenaran dalil. Perbedaan antar[a] ini adalah
bahwa, di (dalam) [perasaan/pengertian] yang kedua , apapun dapat [disebut/dipanggil] a
menjadi sekitar yang (mana) suatu dalil menyatakan dapat
yang dibentuk, sekalipun hal tidak mengusulkan sebagai fakta apapun pada kenyataannya.
Dengan cara ini, kekurangan dan peniadaan [disebut/dipanggil]
mahluk, seperti ketika kita kata[kan pernyataan itu dipertentangkan dengan
peniadaan, atau kebutaan itu adalah di (dalam) mata [itu]. Tetapi di (dalam)
[perasaan/pengertian] yang pertama, tidak ada apapun dapat [disebut/dipanggil] suatu mahluk kecuali jika itu
mengusulkan sebagai fakta sesuatu (yang) pada kenyataannya, dan [dengan] begitu di (dalam) ini dulu
merasakan kebutaan dan berbagai hal serupa tidak sedang.
Istilah inti sari tidaklah diambil dari sedang berada dalam yang kedua
[perasaan/pengertian], untuk/karena dalam hal ini beberapa berbagai hal [disebut/dipanggil] mahluk
itu tidak punya inti sari, [seperti halnya] jelas bersih dengan kekurangan.
Melainkan, istilah inti sari diambil dari sedang berada dalam
[perasaan/pengertian] yang pertama. [Dengan] begitu di (dalam) Metaphysicae V, com. 14,
Komentator menjelaskan teks yang dikutip dari Aristotle oleh
berkata mahluk itu, di (dalam) [perasaan/pengertian] yang pertama, adalah apa [yang]
menandakan inti sari suatu hal. Dan [karena;sejak], [seperti/ketika] dikatakan
di atas, yang sedang dalam hal ini adalah dibagi menjadi yang sepuluh
kategori, inti sari menandakan sesuatu (yang) umum [bagi/kepada] semua
alam[i] dengan mana berbagai mahluk ditempatkan
berbagai jenis dan jenis, [sebagai/ketika/sebab] ras manusia adalah
inti sari orang [laki-laki], dan seterusnya.
[Karena;Sejak] yang dengan mana suatu hal [didasari/buat] dalam nya
jenis atau jenis sesuai adalah apa [yang] ditandai oleh
definisi yang menandakan apa yang hal adalah, ahli filsafat
yang diperkenalkan istilah intisari untuk berarti sama halnya
inti sari istilah; dan ini adalah hal yang sama [bahwa/yang]
Ahli filsafat [yang] sering terminologi apa itu untuk menjadi hal,
itu adalah, bahwa dengan mana sesuatu (yang) mempunyai menjadi sebagai
macam tertentu hal. Inti sari adalah juga [disebut/dipanggil] format,
untuk/karena ketentuan dari tiap hal ditandai melalui/sampai
format nya, [sebagai/ketika/sebab] Avicenna kata[kan Metaphysicae nya I, kopiah.
6. Hal yang sama adalah juga [disebut/dipanggil] alam[i], mengambil alam[i]
di [dalam] pertama empat pikiran sehat bahwa Boethius
menciri buku nya Tidak Persona Et Duabus Naturis
kopiah. 1 ( PL 64, 1341B), di (dalam) [perasaan/pengertian], dengan kata lain,
alam[i] itu adalah apa yang [kita kami] [sebut/panggil/hubungi] semua hal yang dapat di (dalam) manapun
[jalan/cara] ditangkap oleh akal, untuk/karena suatu hal bukanlah
dapat dimengerti kecuali melalui/sampai definisi nya dan
inti sari. Dan demikian Ahli filsafat kata[kan V Metaphysicae
Kopiah. 4 ( 1014b36) bahwa tiap-tiap unsur adalah suatu alam[i]. Tetapi
istilah alam[i] yang digunakan dengan cara ini nampak untuk menandakan
inti sari suatu hal karena (itu) adanya [diperintah/ dipesan] kepada yang sesuai
operasi hal, untuk/karena tidak (ada) hal adalah tanpa nya
operasi sesuai. Istilah intisari, [yang] sungguh pasti, diambil
dari fakta bahwa ini adalah apa [yang] ditandai oleh
definisi. Tetapi hal yang sama [disebut/dipanggil] inti sari
sebab menjadi mempunyai keberadaan melalui [itu] dan dalam itu.
Tetapi sebab menjadi tentu saja/sungguh dan terutama semata dikatakan
unsur, dan hanya secondarily dan di (dalam) suatu tertentu
[perasaan/pengertian] berkata kecelakaan, inti sari terlalu dengan baik dan
sungguh-sungguh di (dalam) unsur dan adalah di (dalam) kecelakaan hanya di (dalam) a
[jalan/cara] tertentu dan di (dalam) suatu [perasaan/pengertian] tertentu. Sekarang beberapa
unsur adalah sederhana dan beberapa gabungan, dan
inti sari adalah di (dalam) kedua-duanya, meskipun [demikian] di (dalam) unsur yang sederhana di (dalam)
suatu truer dan [jalan/cara] [yang] lebih mulia, [seperti/ketika] ini mempunyai keberadaan di (dalam)
suatu nobler [jalan/cara]: tentu saja, unsur yang sederhana adalah
penyebab orang-orang gabungan, atau sedikitnya ini adalah benar
berkenaan dengan lebih dulu unsur sederhana, yang mana [adalah]
Tuhan. Hanyalah sebab inti sari unsur ini adalah
[yang] lebih tersembunyi dari [kita/kami], kita hendaknya mulai dengan
inti sari unsur gabungan, [sebagai/ketika/sebab] pelajaran adalah
lebih mudah ketika kita mulai dengan berbagai hal yang lebih mudah.
Bab II
Di (dalam) unsur gabungan [yang] kita temukan format dan perihal, seperti di
orang [laki-laki] ada jiwa dan badan. Kita tidak bisa kata[kan, bagaimanapun,
bahwa yang manapun ini adalah inti sari hal [itu]. Bahwa
berartilah sendiri bukanlah inti sari hal harus jelas,
(sebab) adalah melalui/sampai inti sari nya yang suatu hal adalah bisa mengetahui
dan ditempatkan [adalah] suatu jenis atau jenis. Tetapi perihal bukanlah
suatu prinsip pengamatan; maupun apapun ditentukan
untuk suatu jenis atau jenis menurut perihal nya tetapi
melainkan menurut apa [yang] sesuatu (yang) adalah di (dalam) tindakan. Maupun adalah
format sendiri inti sari suatu hal gabungan, bagaimanapun
banyak orang-orang tertentu boleh mencoba untuk menyatakan ini. Dari apa [yang]
telah dikatakan, itu telah jelas [bahwa/yang] inti sari adalah bahwa
yang mana [adalah] ditandai oleh definisi hal [itu].
Definisi suatu unsur alami, bagaimanapun, berisi
tidak hanya membentuk tetapi juga berarti; cara lainnya,
definisi [dari;ttg] berbagai hal alami dan mathematical orang-orang
tidak akan berbeda. Maupun dapat [itu] dikatakan perihal itu adalah
yang ditempatkan definisi suatu unsur alami [sebagai/ketika]
sesuatu (yang) ditambahkan kepada inti sari atau sebagai beberapa menjadi di luar
inti sari hal, untuk/karena bahwa jenis definisi
jadilah lebih sesuai ke kecelakaan, . yang manakah bukan mempunyai a
menyempurnakan inti sari dan yang meliputi definisi mereka
suatu pokok di luar jenis mereka sendiri. Oleh karena itu,
inti sari [yang] dengan jelas meliputi perihal kedua-duanya dan format.
Maupun dapat [itu] dikatakan bahwa inti sari menandakan hubungan [itu]
antar[a] perihal dan format atau apa begitu
superadded ke ini, untuk/karena kemudian inti sari akan
keperluan jadilah suatu kecelakaan dan ucapan tambahan kepada hal,
dan hal tidak akan dikenal melalui/sampai inti sari nya,
bertentangan dengan apa [yang] menyinggung [bagi/kepada] suatu inti sari. Melalui/Sampai
format, [yang] sungguh pasti, yang mana [adalah] tindakan perihal,
perihal dibuat suatu mahluk di (dalam) tindakan dan semacam tertentu
hal. Seperti itu, sesuatu yang supervenes tidak memberi
kepada keberadaan perihal di (dalam) tindakan [yang] hanya, tetapi lebih
keberadaan di (dalam) tindakan di (dalam) suatu [jalan/cara] tertentu, sama [halnya] kecelakaan
lakukan, seperti ketika sifat putih membuat sesuatu (yang) [yang] putih.
Karenanya, ketika format seperti itu diperoleh, kita tidak kata[kan
[bahwa/yang] hal dihasilkan hanya tetapi hanya di (dalam) a
[jalan/cara] tertentu.
Satu-Satunya kemungkinan, oleh karena itu, adalah bahwa istilah
inti sari, rasa hormat yang digunakan di ke unsur gabungan,
menandakan yang adalah terdiri atas perihal dan membentuk.
Kesimpulan ini adalah konsisten dengan apa [yang] Boethius kata[kan
di (dalam) komentar nya pada [atas] Kategori, [yang] yakni, bahwa
ousia menandakan apa [yang] adalah gabungan; ousia, tentu saja,
adalah untuk Greeks inti sari apa [yang] adalah untuk [kita/kami], [seperti/ketika] Boethius
[sen]dirinya kata[kan buku nya Tidak Persona Et Duabus
Naturis.[[3]] Avicenna genap kata[kan, Metaphysicae V, kopiah.
5, [bahwa/yang] intisari suatu unsur gabungan adalah
seluruh komposisi format dan perihal [itu]. Dan
menafsirkan Buku VII [dari;ttg] Metaphysicae Aristotle'S,
Komentator kata[kan, " Alam[I] yang jenis di (dalam)
berbagai hal generable mempunyai adalah sesuatu (yang) pertengahan; bahwa
adalah, [itu] adalah terdiri atas perihal dan format." Metaphysicae
VII, com. 27. Lebih dari itu, memberi alasan pen;dukungan pandangan ini, untuk/karena
keberadaan suatu unsur gabungan bukan format
sendiri maupun berarti sendiri tetapi adalah agak terdiri atas
ini. Inti sari adalah bahwa menurut yang mana
hal dikatakan kepada karenanya, [itu] benar [bahwa/yang]
inti sari dengan mana suatu hal dipanggil suatu mahluk adalah
[bukan/tidak] format sendiri tidak berarti sendiri tetapi kedua-duanya, sekalipun hanya
keberadaan itu [dari;ttg] sesama ini adalah disebabkan oleh format [itu] dan
bukan oleh perihal [itu]. [Yang] dengan cara yang sama, kita lihat bahwa di (dalam) lain
berbagai hal yang [didasari/buat] dari prinsip banyak orang,
hal tidaklah dipanggil dari hanya salah seorang
prinsip tetapi lebih dari yang memeluk
kedua-duanya. Seperti itu, berkenaan dengan selera, kemanisan adalah
disebabkan oleh tindakan suatu badan binatang hangat [yang] mencerna
apa [yang] adalah basah, dan sekalipun hanya bahwa dengan cara ini kehangatan/keramahan adalah
penyebab kemanisan, meskipun demikian suatu badan bukanlah
manis yang [disebut/dipanggil] dengan alasan kehangatan/keramahan, tetapi lebih oleh
pertimbangan bagi selera, yang memeluk kedua-duanya kehangatan/keramahan
dan kebasahan.
Tetapi sebab perihal adalah prinsip individuation,
[itu] akan barangkali nampak untuk mengikuti inti sari itu, yang
memeluk dengan sendirinya secara serempak kedua-duanya format dan
perihal, melulu tertentu dan tidak universal. Dari
ini [itu] akan mengikuti bahwa universal tidak punya
definisi, mengira bahwa inti sari adalah apa [yang] adalah
yang ditandai oleh definisi [itu]. Seperti itu, kita harus menunjuk
perihal itu memahami [jalan/cara] [yang] kita mempunyai sampai sekarang
yang dipahami bukan prinsip individuation;
hanya signate perihal adalah prinsip individuation.
Aku [sebut/panggil/hubungi] signate perihal perihal [yang] dipertimbangkan di bawah
dimensi mantap. Signate Perihal tidaklah dimasukkan
di (dalam) definisi orang [laki-laki] [sebagai/ketika] orang [laki-laki], tetapi signate perihal
akan tercakup di definisi Socrates jika
Socrates mempunyai suatu definisi. Di (dalam) definisi orang [laki-laki],
bagaimanapun, dimasukkan perihal non-signate: di (dalam)
definisi orang [laki-laki] [yang] kita tidak meliputi tulang ini dan ini
daging tetapi hanya tulang dan daging [yang] tentu saja/sungguh, yang adalah
perihal orang [laki-laki] yang non-signate.
Karenanya, inti sari orang [laki-laki] dan inti sari Socrates
jangan berbeda kecuali [seperti;sebagai;ketika] signate berbeda dengan
yang non-signate, dan demikian Komentator kata[kan, di (dalam)
Metaphysicae VII, com. 20, " Socrates adalah tidak ada apapun lain
dibanding animalas dan rasionalitas, yang adalah nya
intisari." [Yang] dengan cara yang sama, inti sari suatu jenis dan
inti sari suatu jenis berbeda [ketika;seperti] signate dari
non-signate, walaupun di (dalam) kasus jenis dan jenis
suatu gaya tujuan [yang] berbeda digunakan di rasa hormat
[bagi/kepada] kedua-duanya. Karena, tujuan yang individu dengan
menghormati kepada jenis jemu akan perihal yang ditentukan oleh
dimensi, [selagi/sedang] tujuan jenis dengan
menghormati kepada jenis jemu akan [itu] menurut konstitusi
perbedaan, yang mana [adalah] diambil dari format hal.
Tujuan Atau Penentuan ini, bagaimanapun, yang mana [adalah]
buatan jenis berkenaan dengan jenis, bukanlah
melalui/sampai sesuatu yang ada di [dalam] inti sari
jenis tetapi sama sekali tidak ada di [dalam] inti sari
jenis. Sebaliknya, apapun juga yang di (dalam) jenis adalah
juga di (dalam) jenis [sebagai/ketika] tak dapat ditentukan. Jika binatang bukanlah
semua yang orang [laki-laki] tidak lain dari melainkan hanya bagian dari dia, kemudian
binatang tidak akan jadilah untuk predicated orang [laki-laki], untuk/karena tidak (ada) [yang] integral
[part;bagian] adalah predicated tentang utuh nya .
Kita dapat lihat bagaimana ini terjadi dengan mempertimbangkan bagaimana badan [sebagai/ketika]
bagian dari binatang berbeda dengan badan [sebagai/ketika] jenis binatang. Di (dalam) badan [jalan/cara] adalah jenis binatang itu
tidak bisa jadilah suatu bagian integral binatang, dan [dengan] begitu
badan istilah dapat diterima beberapa jalan. Badan adalah
yang dikatakan kepada jadilah di (dalam) jenis unsur di (dalam) bahwa itu mempunyai a
alam[i] . seperti (itu) yang tiga dimensi dapat ditunjuk
badan [itu]. Tiga dimensi ditunjuk ini adalah
badan yang adalah di (dalam) jenis kwantitas. Sekarang, itu
kadang-kadang terjadi bahwa apa yang mempunyai satu kesempurnaan boleh
mencapai [bagi/kepada] suatu kesempurnaan lebih lanjut juga, [seperti halnya] jelas bersih
orang [laki-laki], [siapa] yang mempunyai suatu alam[i] sensitip dan, lebih lanjut, suatu
intellective satu. Dengan cara yang sama, di atas kesempurnaan ini
mempunyai;nikmati suatu format . seperti (itu) yang tiga dimensi dapat
yang ditunjuk di dalamnya, [di/ke] sana dapat dihubungkan yang lain
kesempurnaan, [sebagai/ketika/sebab] hidup atau beberapa hal serupa. Istilah ini
Badan, oleh karena itu, dapat menandakan suatu hal tertentu yang mempunyai
suatu format . seperti (itu) yang dari format [di/ke] sana mengikuti [itu]
hal designatabilas di (dalam) tiga dimensi dan tidak ada apapun
lebih [], . seperti (itu) yang, dengan kata lain, dari ini tidak membentuk apapun
kesempurnaan lebih lanjut mengikuti, tetapi jika beberapa hal lain adalah
superadded, [itu] adalah di luar arti/pengertian badan
[dengan] begitu memahami. Dan yang dipahami dengan cara ini, badan akan
jadilah suatu integral dan material bagian dari binatang,
sebab dengan cara ini jiwa akan [jadi] di luar apa [yang] adalah
yang ditandai oleh istilah badan, dan [itu] akan supervene terpasang
badan . seperti (itu) yang dari dua ini, yakni jiwa dan
badan, binatang [didasari/buat] terhitung sejak [part;bagian].
Istilah ini Badan dapat juga dipahami [ketika;seperti] menandakan a
hal tertentu yang mempunyai suatu format . seperti (itu) yang tiga
dimensi dapat ditunjuk di dalamnya, apapun juga [yang] format ini
mungkin, dan . seperti (itu) yang yang manapun dari format beberapa
kesempurnaan lebih lanjut dapat berproses atau bukan. yang dipahami
[Jalan/Cara] ini, Badan akan menjadi jenis binatang, untuk/karena [di/ke] sana
akan [jadi] dipahami binatang tidak ada yang bukanlah
badan secara implisit terdapat di. Sekarang, jiwa adalah suatu format
dengan mana [di/ke] sana dapat ditunjuk hal
tiga dimensi, dan oleh karena itu, ketika kita kata[kan badan itu
apa yang telah suatu format dari yang tiga dimensi dapat
yang ditunjuk badan, kita memahami ada beberapa
macam format [dari;ttg] ini mengetik, apakah jiwa, atau
lapideousness, atau apapun juga [yang] lain format. Dan [dengan] begitu
format binatang secara implisit dimasukkan dalam wujud
badan, sama [halnya] badan jenis nya .
Hubungan binatang ke orang [laki-laki] adalah sama. Untuk/Karena jika
binatang nama sekedar hal tertentu yang mempunyai a
kesempurnaan . seperti (itu) bahwa itu dapat merasakan dan pindah;gerakkan dengan a
prinsip yang ada dengan sendirinya, tanpa lain
kesempurnaan, kemudian apapun juga [yang] kesempurnaan
lebih lanjut boleh supervene akan dihubungkan dengan binatang sebagai komponen
[part;bagian], dan bukan sebagai secara implisit terdapat di dugaan binatang; dan dengan cara ini binatang tidak akan jadilah suatu jenis.
Tetapi binatang adalah suatu jenis di (dalam) bahwa itu menandakan suatu tertentu
hal dari format [di/yang/ttg] mana sensasi dan gerakan dapat
berproses, apapun juga [yang] format ini mungkin, apakah suatu masuk akal
jiwa saja, atau suatu jiwa kedua-duanya [yang] masuk akal dan masuk akal
Jumat, 12 Oktober 2007
cinta yg tulus
Cinta merupakan anugerah yang tak ternilai harganya
dan itu di berikan kepada makhluk yang paling
sempurna, manusia. Cinta tidak dapat diucapkan dengan
kata-kata, tidak dapat dideskripsikan dengan bahasa
apaun. Cinta hanya bisa dibaca dengan bahasa cinta dan
juga dengan perasaan.
aku rasa cinta sejati atau cinta yang tulus adalah
saat kita telah di duakan dan meski kita di
tinggalkan, kita harus menghadapi itu dengan kenyataan
bahwa dia memilih apa yang terbaik untuknya.. jangan
kita paksakan, jangan kita tentang.. namun kita dukung
dengan ketulusan walau hati kita masih mencintainya..
karena aku yakin saat itu terjadi kita kan mengerti
dan mendapat pelajaran betapa berharaganya cinta itu..
Jika anda di duakan atau di tinggalkan hadapilah itu
dengan penuh ketegaran meski ungkin anda akan terpuruk
dan terjatuh..
dan itu di berikan kepada makhluk yang paling
sempurna, manusia. Cinta tidak dapat diucapkan dengan
kata-kata, tidak dapat dideskripsikan dengan bahasa
apaun. Cinta hanya bisa dibaca dengan bahasa cinta dan
juga dengan perasaan.
aku rasa cinta sejati atau cinta yang tulus adalah
saat kita telah di duakan dan meski kita di
tinggalkan, kita harus menghadapi itu dengan kenyataan
bahwa dia memilih apa yang terbaik untuknya.. jangan
kita paksakan, jangan kita tentang.. namun kita dukung
dengan ketulusan walau hati kita masih mencintainya..
karena aku yakin saat itu terjadi kita kan mengerti
dan mendapat pelajaran betapa berharaganya cinta itu..
Jika anda di duakan atau di tinggalkan hadapilah itu
dengan penuh ketegaran meski ungkin anda akan terpuruk
dan terjatuh..
Cinta itu adalah sesuatu yang murni, putih, tulus dan
suci yang timbul tanpa adanya paksaan atau adanya
sesuatu yang dibuat-buat, Menurut saya pribadi cinta
itu dapat membuat orang itu dapat termotivasi untuk
melakukan perubahan yang lebihb aik daripada sebelum
ia mengenal cinta itu. Cinta itu sesuatu yang suci dan
janganlah kita menodai cinta yang suci itu dengan
ke-egoisan kita yang hanya menginginkan enaknya buat
kita dan ndak enaknya buat kamu.
Suatu perasaan terdalam manusia yangmembuatnya rela
berkorban apa saja demi kebahagiaan orang yang
dicintainya. Pengorbanannya itu tulus, tidak mengharap
balasan. Kalau misalnya memberi banyak hadiah ke
seseorang tapi dengan syarat orang itu harus
membalasnya dengan mau jadi kekasihnya, itu bukan
cinta namanya.CInta tidak bisa diukur dengan materi
ataupun yang berasal dari dunia fana.
Cinta, membuat bahagia, duka ataupun buta. Cinta itu
penuh pengorbanan, kepahitan, keindahan dan
kehangatan. Cinta adalah sebuah keinginan untuk
memberi tanpa harus meminta apa-apa, namun cinta akan
menjadi lebih indah jika keduanya saling memberi dan
menerima, sehingga kehangatan, keselarasan dan
kebersamaan menjalani hidup dapat tercapai. CInta
adalah kata yang memiliki banyak makna, bergantung
bagaimana kita menempatkannya dalam kehidupan.
Cinta itu bisa membuat orang buta akan segalanya hanya
demi rasa sayang terhadap sang kekasih. Kita juga tau
apa maknanya cinta itu. Cinta psti bisa membuat orang
merasakan suka dan duka pada waktu yang sama ketika
kita berusaha mendapat kebahagiaan bersama. Jadi
bukanlah kebahagiaan untuk kita sendiri. Meskipun
demikian kita jangan samapi salah langkah agar tidak
menuju kesengsaraan. Lakukanlah demi orang yang kamu
kasihi agar kau tidak merasa sia-sia tanpa guna.
Karena hal itulah yang membuat hidup menjadi lebih
hidup.
Cinta adalah perasaan hangat yang mampu membuat kita
menyadari betapa berharganya kita, dan adanya
seseorang yang begitu berharga untuk kita lindungi.
CInta tidaklah sebatas kata-kata saja, karena cinta
jauh lebih berharga daripada harta karun termahal di
dunia pun. Saat seseorang memegang tanganmu dan bilang
” Aku cinta kamu…” pasti menjadi perasaan hangat yang
istimewa! Karena itu, saat kamu sudah menemukan
seseorang yang begitu berharga buat kamu, jangan
pernah lepaskan dia! Namun adakalanya cinta begitu
menyakitkan, dan satu-satunya jalan untuk menunjukkan
cintamu hanyalah merlekan dia pergi.
Cinta itu adalah sebuah perasaan yang tidak ada
seorangpun bisa mengetahui kapan datangnya, bahkan
sang pemilik perasaan sekalipun. Jika kita sudah
mengenal cinta, kita akan menjadi orang yang paling
berbahagia di dunia ini. Akan tetapi, bila cinta kita
tak terbalas, kita akan merasa bahwa kita adalah orang
paling malang dan kita akan kehilangan gairah hidup.
Dengan cinta, kita bisa belajar untuk menghargai
sesama, serta berusaha untuk melindungi orang yang
kita cintai, apaun yang akan terjadi pada kita.
suci yang timbul tanpa adanya paksaan atau adanya
sesuatu yang dibuat-buat, Menurut saya pribadi cinta
itu dapat membuat orang itu dapat termotivasi untuk
melakukan perubahan yang lebihb aik daripada sebelum
ia mengenal cinta itu. Cinta itu sesuatu yang suci dan
janganlah kita menodai cinta yang suci itu dengan
ke-egoisan kita yang hanya menginginkan enaknya buat
kita dan ndak enaknya buat kamu.
Suatu perasaan terdalam manusia yangmembuatnya rela
berkorban apa saja demi kebahagiaan orang yang
dicintainya. Pengorbanannya itu tulus, tidak mengharap
balasan. Kalau misalnya memberi banyak hadiah ke
seseorang tapi dengan syarat orang itu harus
membalasnya dengan mau jadi kekasihnya, itu bukan
cinta namanya.CInta tidak bisa diukur dengan materi
ataupun yang berasal dari dunia fana.
Cinta, membuat bahagia, duka ataupun buta. Cinta itu
penuh pengorbanan, kepahitan, keindahan dan
kehangatan. Cinta adalah sebuah keinginan untuk
memberi tanpa harus meminta apa-apa, namun cinta akan
menjadi lebih indah jika keduanya saling memberi dan
menerima, sehingga kehangatan, keselarasan dan
kebersamaan menjalani hidup dapat tercapai. CInta
adalah kata yang memiliki banyak makna, bergantung
bagaimana kita menempatkannya dalam kehidupan.
Cinta itu bisa membuat orang buta akan segalanya hanya
demi rasa sayang terhadap sang kekasih. Kita juga tau
apa maknanya cinta itu. Cinta psti bisa membuat orang
merasakan suka dan duka pada waktu yang sama ketika
kita berusaha mendapat kebahagiaan bersama. Jadi
bukanlah kebahagiaan untuk kita sendiri. Meskipun
demikian kita jangan samapi salah langkah agar tidak
menuju kesengsaraan. Lakukanlah demi orang yang kamu
kasihi agar kau tidak merasa sia-sia tanpa guna.
Karena hal itulah yang membuat hidup menjadi lebih
hidup.
Cinta adalah perasaan hangat yang mampu membuat kita
menyadari betapa berharganya kita, dan adanya
seseorang yang begitu berharga untuk kita lindungi.
CInta tidaklah sebatas kata-kata saja, karena cinta
jauh lebih berharga daripada harta karun termahal di
dunia pun. Saat seseorang memegang tanganmu dan bilang
” Aku cinta kamu…” pasti menjadi perasaan hangat yang
istimewa! Karena itu, saat kamu sudah menemukan
seseorang yang begitu berharga buat kamu, jangan
pernah lepaskan dia! Namun adakalanya cinta begitu
menyakitkan, dan satu-satunya jalan untuk menunjukkan
cintamu hanyalah merlekan dia pergi.
Cinta itu adalah sebuah perasaan yang tidak ada
seorangpun bisa mengetahui kapan datangnya, bahkan
sang pemilik perasaan sekalipun. Jika kita sudah
mengenal cinta, kita akan menjadi orang yang paling
berbahagia di dunia ini. Akan tetapi, bila cinta kita
tak terbalas, kita akan merasa bahwa kita adalah orang
paling malang dan kita akan kehilangan gairah hidup.
Dengan cinta, kita bisa belajar untuk menghargai
sesama, serta berusaha untuk melindungi orang yang
kita cintai, apaun yang akan terjadi pada kita.
Caranya Jatuh Cinta
Caranya Jatuh Cinta
jatuh tapi jangan terhuyung-huyung, konsisten tapi
jangan memaksa, berbagi dan jangan bersikap tidak
adil, mengerti dan cobalah untuk tidak banyak
menuntut, sedih tapi jangan pernah simpan kesedihan
itu.
Memang sakit melihat orang yang kamu cintai sedang
berbahagia dengan orang lain tapi lebih sakit lagi
kalau orang yang kamu cintai itu tidak berbahagia
bersama kamu.
Cinta akan menyakitkan ketika kamu berpisah dengan
seseorang, lebih menyakitkan apabila kamu dilupakan
oleh kekasihmu, tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi
apabila seseorang yang kamu sayangi tidak tahu apa
yang sesungguhnya kamu rasakan.
Yang paling menyedihkan dalam hidup adalah menemukan
seseorang dan jatuh cinta, hanya untuk mengetahui
bahwa dia bukan untuk kamu dan kamu sudah menghabiskan
banyak waktu untuk orang yang tidak pernah
menghargainya. Kalau dia tidak "worth it" sekarang,
dia tidak akan pernah "worth it" setahun lagi ataupun
10 tahun lagi. Jadi, biarkan dia pergi…
Kompatibilitas yang paling benar bukan diukur
berdasarkan berapa lama kalian sudah bersama maupun
berapa sering kalian bersama, tapi apakah selama
kalian bersama, kalian selalu saling mengisi satu sama
lain dan saling membuat hidup yang berkualitas.
Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu
inginkan dan menyayat sedalam yang kamu izinkan. Yang
berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan
dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar darinya.
jatuh tapi jangan terhuyung-huyung, konsisten tapi
jangan memaksa, berbagi dan jangan bersikap tidak
adil, mengerti dan cobalah untuk tidak banyak
menuntut, sedih tapi jangan pernah simpan kesedihan
itu.
Memang sakit melihat orang yang kamu cintai sedang
berbahagia dengan orang lain tapi lebih sakit lagi
kalau orang yang kamu cintai itu tidak berbahagia
bersama kamu.
Cinta akan menyakitkan ketika kamu berpisah dengan
seseorang, lebih menyakitkan apabila kamu dilupakan
oleh kekasihmu, tapi cinta akan lebih menyakitkan lagi
apabila seseorang yang kamu sayangi tidak tahu apa
yang sesungguhnya kamu rasakan.
Yang paling menyedihkan dalam hidup adalah menemukan
seseorang dan jatuh cinta, hanya untuk mengetahui
bahwa dia bukan untuk kamu dan kamu sudah menghabiskan
banyak waktu untuk orang yang tidak pernah
menghargainya. Kalau dia tidak "worth it" sekarang,
dia tidak akan pernah "worth it" setahun lagi ataupun
10 tahun lagi. Jadi, biarkan dia pergi…
Kompatibilitas yang paling benar bukan diukur
berdasarkan berapa lama kalian sudah bersama maupun
berapa sering kalian bersama, tapi apakah selama
kalian bersama, kalian selalu saling mengisi satu sama
lain dan saling membuat hidup yang berkualitas.
Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu
inginkan dan menyayat sedalam yang kamu izinkan. Yang
berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan
dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar darinya.
Cinta adalah keabadian … dan kenangan adalah hal
terindah yang pernah dimiliki.
Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak seorangpun
pandai menilai cinta karena cinta bukanlah suatu
objek yang bisa dilihat oleh kasat mata, sebaliknya
cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan.
Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu
cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya
menjadi
gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya
mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan
didalam dirinya.
terindah yang pernah dimiliki.
Siapapun pandai menghayati cinta, tapi tak seorangpun
pandai menilai cinta karena cinta bukanlah suatu
objek yang bisa dilihat oleh kasat mata, sebaliknya
cinta hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan.
Cinta sebenarnya adalah membiarkan orang yang kamu
cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya
menjadi
gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya
mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan
didalam dirinya.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu
bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya
untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak
berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa
mendo’akannya walaupun dia tidak berada disisi kita.
Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua
tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan
dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya
menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan
telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang
untuk kita mencarinya. Itulah Cinta …
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu
masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu
masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu
tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat
melupakannya.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai
harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada
mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah
dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai,
walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada
mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk
membangunkan kembali kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang
tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran
akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu
pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta
yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada
hayatnya.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai
kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya.
Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi.
Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta kedalam
laut, pasti ia akan membawa seekor ikan.
Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke
dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.
bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu, hanya
untuk menemukan bahwa pada akhirnya menjadi tidak
berarti dan kamu harus membiarkannya pergi.
Jika kita mencintai seseorang, kita akan senantiasa
mendo’akannya walaupun dia tidak berada disisi kita.
Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua
tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan
dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya
menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan
telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang
untuk kita mencarinya. Itulah Cinta …
Jangan sesekali mengucapkan selamat tinggal jika kamu
masih mau mencoba. Jangan sesekali menyerah jika kamu
masih merasa sanggup. Jangan sesekali mengatakan kamu
tidak mencintainya lagi, jika kamu masih tidak dapat
melupakannya.
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai
harapan, walaupun mereka telah dikecewakan. Kepada
mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah
dikhianati. Kepada mereka yang masih ingin mencintai,
walaupun mereka telah disakiti sebelumnya dan Kepada
mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk
membangunkan kembali kepercayaan.
Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang
tersayang sehingga dia meninggal dunia lantaran
akhirnya kamu terpaksa catatkan kata-kata cinta itu
pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta
yang tersimpan dibenakmu itu sekarang selagi ada
hayatnya.
Kadangkala kamu tidak menghargai orang yang mencintai
kamu sepenuh hati, sehingga kamu kehilangannya.
Pada saat itu, tiada guna penyesalan karena perginya tanpa berkata lagi.
Lemparkan seorang yang bahagia dalam bercinta kedalam
laut, pasti ia akan membawa seekor ikan.
Lemparkan pula seorang yang gagal dalam bercinta ke
dalam gudang roti, pasti ia akan mati kelaparan.
Cinta adalah kodrat yang diberikan Sang Pencipta untuk
manusia. Mungkin pertanyaan di atas sering kita
dengar. Tapi cinta yang bagaimana yang tidak membuat
orang merasa tersakiti dan disakiti. Kesalahan
persepsi tentang arti cinta membuat kita terjebak
dalam pertanyaan itu, karena cinta yang tulus dan suci
tidak akan pernah melukai hati, perasaan siapapun.
Hanya keikhlasan dan keyakinan kepada Sang pencipta,
bahwa semua yang ada akan kembali kepadanya, dan Dia
akan memberikan cinta yang lebih kepada kita dari apa
yang kita harapkan. Itulah kuncinya.
Bisakah kita mencapai tarap itu? Menjadikan cinta
tulus dan tak terbelenggu dengan syarat apapun. Karena
cinta yang indah menumbuhkan rasa kebahagian yang luar
biasa bagi pasangannya.
Kini benih-benih cinta mulai berebaran lagi…..semuanya
tampak indah, semuanya tampak mempesona. Tapi
hati-hatilah dalam memilih cinta…jangan sampai dirimu
terjerumus dalam cinta yang salah..yang hanya didasari
oleh nafsu dan tipu daya dunia.
manusia. Mungkin pertanyaan di atas sering kita
dengar. Tapi cinta yang bagaimana yang tidak membuat
orang merasa tersakiti dan disakiti. Kesalahan
persepsi tentang arti cinta membuat kita terjebak
dalam pertanyaan itu, karena cinta yang tulus dan suci
tidak akan pernah melukai hati, perasaan siapapun.
Hanya keikhlasan dan keyakinan kepada Sang pencipta,
bahwa semua yang ada akan kembali kepadanya, dan Dia
akan memberikan cinta yang lebih kepada kita dari apa
yang kita harapkan. Itulah kuncinya.
Bisakah kita mencapai tarap itu? Menjadikan cinta
tulus dan tak terbelenggu dengan syarat apapun. Karena
cinta yang indah menumbuhkan rasa kebahagian yang luar
biasa bagi pasangannya.
Kini benih-benih cinta mulai berebaran lagi…..semuanya
tampak indah, semuanya tampak mempesona. Tapi
hati-hatilah dalam memilih cinta…jangan sampai dirimu
terjerumus dalam cinta yang salah..yang hanya didasari
oleh nafsu dan tipu daya dunia.
Sabtu, 06 Oktober 2007
Rabu, 03 Oktober 2007
hatiku hampa dan kosongkering kerontang...... tiada setepespun air disanarasaku mati....buatmu, dia dan yang laindisini hanya ada perih dan tetesan darahdisini hanya ada luka yang meradang dan bernanah.kau torehkan tanpa kenal ampun hingga hatiku cacat tak terobati..pergilah cinta,pergilahdan tinggalkan aku bersama lukaku
Langganan:
Postingan (Atom)